NUANSA PESONA DOLANAN BOCAH

Permainan anak tradisional yang dimiliki oleh anak – anak Nusantara memang banyak sekali ragamnya. permainan yang berkaitan dengan ketangkasan , kesabaran , emosional, ketrampilan, kecermatan dan kecerdasan otak. Permainan anak memiliki kekhasan tersendiri di setiap daerah. Inilah sebagian permainan tradisional yang populer pada masa itu yang ada di nusantara. Di bawah ini hanya sebagian kecil dari permainan anak yang di miliki negeri ini dan permainan anak ini hampir di setiap daerah mempunyai nama yang berbeda.

Permainan petak-umpet / Jethungan / yangoyango / jilumpet / tak umpet
Pe
rmainan ingkling / engklek / Dampu / sondah-mandah (sunda-manda), jling-jlong
Permainan ular naga / sledur-sledur/ancak-ancak alis/ oray-orayan

Permainan gobagsodor / galah asin

Permainan Congkak atau dakon

Permainan egrang / kaki panjang

Permainan Bentengan/rerebonan

Permainan nekeran / gundu / kelereng

Permainan patil lele/pakle / benthik

Permainan gangsing Permainan bekelan
Permainan lompat tali,dll


Atau ada juga yang hanya sekedar mendendangkan lagu-lagu dolanan semacam permainan berikut

Permainan jamuran,
Permainan cublak-cublak suweng,

Permainan kidang talun
Permainan wak-wak gung,dll


Beberapa Permainan anak tradisional tersebut sudah sangat asing ditelinga anak-anak zaman sekarang. Permainan itu mengingatkan pada kenangan memori para orang tua tentang masa lampau mereka sewaktu masih kecil. Terutama yang tinggal di pedesaan.

Harus diakui, seiring dengan majunya teknologi, anak-anak yang tinggal di kota-kota besar semakin asing dengan permainan tradisional yang sebetulnya banyak bermuatan rangsangan positif. Bila keadaan ini terus berlanjut, besar kemungkinan permainan-permainan tradisional itu kelak tak lagi dikenal, apalagi dimainkan oleh anak-anak. Hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, karena biasanya orang tualah yang lupa memperkenalkan permainan di masa kecilnya kepada anak-anak. "Sebaliknya, suatu permainan akan terus bertahan jika kita menurunkannya secara estafet ke anak kita, lalu dari anak kita diturunkan lagi ke cucu kita, dan selanjutnya."

Imbas permainan modern yang mengandalkan aneka bentuk dan jenis menarik bukan satu satunya faktor yang mengalahkan pamor permainan tradisional. Jangan lupa, makin sempitnya areal atau lahan tempat anak bermain di alam bebas, serta makin sibuknya anak dalam aktivitas sehari-hari juga membuat permainan tradisional ini makin terlupakan.

Ditambah lagi, stimulus yang anak dapatkan setiap waktu selalu bernuansa modern, seperti pergi ke mal, makan di resto yang menyediakan menu modern, atau belajar dengan memakai sarana komputer. Tak heran bila anak-anak kita, apalagi cucu-cucu kita nanti semakin miskin dalam pengalamannya bermain permainan tradisional.

ANEKA MANFAAT

Hampir semua permainan tradisional harus dilakukan dengan teman, membutuhkan ruang terbuka (outdoor), dan kebanyakan harus dimainkan di arena yang cukup luas. Anak-anak kadang juga harus berusaha dulu sebelum bisa melakukan salah satu permainannya, seperti membuat gambar atau membuat alatnya. Variasi untuk satu jenis mainan pun tidak banyak penampilannya juga tak semenarik permainan modern.

Walaupun begitu, permainan seperti engklek, congklak, dan petak umpet sebetulnya bisa juga dimainkan di dalam ruangan. Jadi, permainan tradisional pun sebetulnya bersifat fleksibel atau bisa dimainkan di mana saja. Galah asin, misalnya, meskipun lebih seru dimainkan di luar ruang, tapi kalau situasi tidak memungkinkan, bisa saja dimainkan di dalam ruang. Hanya saja tempatnya harus luas, di lapangan bulu tangkis atau aula, misalnya.

Karena permainan tradisional umumnya dilakukan berkelompok, maka permainan ini otomatis mengajarkan kebersamaan, seperti dalam gobak sodor, engklek ataupun lompata tali. Ada juga permainan tradisional yang bisa dimainkan secara indi vidu selain bersama teman-teman, seperti yoyo, layang-layang, dan ketapel.

Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan sportivitas dan aturan main yang disepakati bersama. Dengan gerakan-gerakan seperti berlari, berkelit, melompat, atau menaikturunkan tangan, fisik anak pun dilatih secara aktif. Jadi, dengan bermain permainan tradisional anak bisa mengasah kemampuan motorik, baik kasar maupun halus, serta gerak refleksnya.

Contoh sederhananya, dalam permainan galah asin, selain gerakan motorik, anak juga dilatih bersikap cekatan, berkonsentrasi, dan melihat peluang degan cepat untuk mengambil keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan. Permainan seperti congklak, bahkan merangsang anak menggunakan strategi. Anak harus pandai menentukan poin atau biji di lubang mana yang harus diambil terlebih dahulu agar bisa mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.

Melihat manfaat-manfaat di atas, sebenarnya permainan tradisional ini penting dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang. Selain untuk memperoleh manfaat yang tidak bisa didapat dari permainan modern, juga untuk mendapatkan wacana lain yang bisa membuat hidup anak lebih kaya dan berdinamika. Terlebih, keterampilan fisik mempunyai kaitan erat dengan bekerjanya fungsi-fungsi saraf.


Uniknya lagi, permainan tradisional Indonesia mempunyai waktu main tertentu, ada yang hanya bisa dilakukan di sore hari, siang hari, atau malam hari. Contoh, permainan Gatok dari Aceh yang menggunakan biji pinang dan tangan sebagai pelenting buah pinang, akan seru jika dilakukan di sore hari. Sementara permainan Nsya Asya/Tok Asya dari Papua, atau balapan menggelindingkan rotan yang dibentuk seperti ban, biasanya dilakukan pagi hari. Satu lagi, permainan oray-orayan dari Jawa Barat paling seru jika dimainkan kala terang bulan.

Gimana ya????????????????

Permainan anak tardisional diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa permainan tersebut mengandung makna edukatif yang mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang terkonversi dan terkodifikasi dari nilai-nilai moral etika yang dianut oleh masyarakatnya. Dapat juga dikatakan befungsi untuk mempertaankan nilai-nilai dengan cara memasukkan makna dalam berbagai sifat, bentuk, dan jenis permainan.Terobosan-terobosan yang dapat dilakukan secara nyata dapat dilakukan melalui pertama memasukkan dalam kurikulum sekolah dasar sebagai pembentuk jiwa anak. Anak cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang diajarkan melalui media permainan, daripada hanya mendengarkan guru ceramah dan siswa disuruh mencatat.Kedua, para pakar dan ahli budaya menciptakan bentuk kreasi baru dari permainan tradisional sehingga tidak dikatakan sebagai ketinggalan zaman, pakar seni yang mampu menciptakan kreasi baru baik dalam bentuk dolanan maupun tembang dolanan anak dalam kemasan baru dan bernuansa kekinian, tetapi tetap memperhatikan keaslian dari permainan anak tradisional tersebut.Ketiga, peran serta masyarakat dalam upaya sosialisasi kampanye kembali pada budaya sendiri, karena kajian-kajian mapun penelitian-penelitian tentang permainan anak tradisional tidk akan bermanfaat tanpa dipraktekkan dan didukung oleh masyarakat. Akhir-akhir ini mulai banyak festival-festival dolanan anak tradisional, namun hal ini belum cukup untuk mengangkat nilai-nilai yang terkandung tanpa partisipasi semua kalangan.

Jika kepedulian terhadap kekayaan budaya tidak pernah terlintas dalam pikiran kita, bahkan membiarkan ia terkubur oleh arus modernisasi dan gedung-gedung pencakar langit. Pada suatu waktu nanti ia akan dikenang sebagai sesuatu yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita dan hanya menjadi kajian para sejarawan, budayawan, maupun antropolog.

Virus hary potter2

Halo sahabat tutorial ini merupakan tutorial ke dua dan ini dijamin bisa mengatasi, coz aku sudah praktekin dan berhasil..
Virus Vinorika adalah sebuah virus lokal Indonesia. Saya baru tahu virus ini beberapa munggu yang lalu. ketika saya ngopy data di Warnet langganan saya. Virus ini tidak merusak sistem anda samasekali, tidak pula menghapus data anda. Hanya saja virus Ini membuat shortcut ke setiap folder yang ada di komputer anda. Awalnya saya gk terlalu khawatir karena tidak terjadi apa-apa. karena cuma ada di flash disk saya.

Namun saya melakukan sebuah kesalahan. Saya memasukan flash disk saya ke komputer saya sebelum membersihkannya dulu. Alhasil virus itu enyebar ke semua folder di komputer saya dan membuat shortcut-shortcut semacam “microsoft.lnk”, “New Harry Potter.lnk”, “New Folder.lnk, dan shortcut2 ke semua folder2 yang ada di komputer. Hal ini sungguh mengganggu sekali. Akhirnya perang saya untuk membersihkan virus ini di mulai.

ciri-ciri Virus Vinorika ini adalah :

1. Membuat file shortcut kesemua folder yang ada di komputer maupun flashdisk. tapi yang pasti muncul adalah file sortcut ini ; “microsoft.lnk”, “New Harry Potter.lnk”, “New Folder.lnk, dan “nama folder”.lnk

2. Mempunyai 2 bagian, yaitu file Autorun.inf dan Thumb.db yang di hidden. keduanya mempunyai ukuran 8kb. Dan satu lagi database.mdb.

3. pada file autorun.inf nya jika di buka dengan notepad ada tulisan “Vinorika Go to Kediri….
‘ Capek dhe!!
‘ Kupersembahkan Sebagai permintaan maafQ bwt Vinurika Rahmania yg ada di Kediri….

4. merupakan virus berbahasa pemograman Visual Basic.

Selesai Ulangan semester, saya googling nih virus di google. Dan tanya ke teman-teman saya. Akhirnya saya menemukan Informasinya di sini :

http://virusindonesia.com/2008/12/22/fdshield-pcmav-191-update-build1/

Di situs tersebut ada seseorang yang menemukan cara menghapus virusnya. Berikut ini adalah cara menghapus virusnya :

1. Matikan System Restore.. (ada di hal 1)
2. Matikan proses virus wsrcipt.exe (C:WINDOWSSystem32wscript.exe)
Bisa menggunakan Process Explorer atau misc. tool pada HijackThis..
3. Hapus file virus database.mdb di My Documents..
4. Hapus file duplikat virus..

Gunakan fasilitas search pada Windows..
Pada “More advanced options”, pastikan option “Search system folders” dan “Search
hidden files and folders” keduanya terpilih..
Search file dengan nama autorun.inf ukurannya 8 KB
Search file dengan nama Thumb.db ukurannya 8 KB
Search file dengan ekstensi .lnk.lnk ukurannya 1 KB
Hapus semua file yang ditemukan..

5. Hapus registry Autorun yang dibuat virus dengan menggunakan HijackThis.. (saya menggunakan Tune Up utilities)
Cari di bagian HKCU..Run: yang berhubungan dengan file database.mdb

Semoga bisa membantu..

regards..

Nah setelah mengikuti langkah di atas, akhirnya saya berhasil menghapus virus tersebut

hahahahahaha……..

nb: Untuk pembuat virus

Two Thumbs Up buat Anda…..

Hebat hasil karya anda

Peace :)





Dolanan Sobyang

Halo sahabat, masih semangat khan!!! Sebenarnya aku tu mggak pernah ketemu ama permainan yang satu ini tapi cuma pernah denger sejarahnya(biar kelihatan keren gitu!!). Dari pada bertele-tele mendingan langsung aja nih. selamat menikmati! (tapi ini bukan makanan lho!!! )

Permainan sobyang yang sering juga disebut dengan subyong atau soblah ini banyak di jumpai disekitar yogyakarta pada masanya. Permainan ini dilakukan untuk mengisi waktu luang. Mungkin di daerah lain juga ada permainan semacam ini tapi dengan nama yang berbeda, karena secara umum berbagai permainan anak tradisional berkembang merata di seluruh nusantara meskipun permainan sedikit dimodifikasi sesuai dengan kekhasan masing – masing daerah, selain itu juga dengan nama yang berbeda.

Permulaan

permainan tradisional anak-anak yang cara memainkannya dengan meregangkan tangan dengan diiringi lagu sobyang, dan disertai suatu macam hitungan : jan,nak,udeng (banding), urang,keeper” yang merupakan kekhasan permainan ini. Permainan dimainkan oleh lima anak, sehingga tidak membutuhkan ruang yang luas.

Cara bermain

Dalam prosesnya, permainan ini terdiri dari tiga tahap, yang masing-masing tahap diiringi lagu tersendiri.

Tahap menghitung ( I), lagunya : “sobyang awing-awang, jangan pare, abang kaya dubang, putih kaya upih, manuk glathik lurik dhadhane, srentek –srentek lembehane,ditututi ing anake”. Sebelumnya masing-masing memperkenalkan nama diri masing-masing, misalnya A=jan, B=nak,C=udeng, D=urang, dan E == keeper. Mereka duduk secara berhadapan-hadapan dalam posisi melingkar. Kemudian bersamaan mereka mengucapkan kata “sobyang” sambil mengangkat kedua tangannya dan segera meletakan telapak tangannya. Di sini tidak ada ketentuan mengenai jumlah jari yang harus diperlihatkan. Namun salah seorang pemain hanya memperlihatkan satu telapak tangannya. Di sini tidak ada ketentuan mengenai jumlah jari yang harus diperlihatkan. Namum salah seoang pemain hanya memperlihatkan satu telapak tangannya , karena dia yang bertugas menghitung seluruh jumlah jari terakhir dengan hitungan dari jan sampai keeper. Bila saja jari yang belum terhitung, hitungan dimulai dari jan lagi. Misalnya hitungan jari terakhir jatuh pada nak yang merupakan nama B, maka B dianggap pemenang pertama, dan tidak perlu ikut dalam penghitungan selanjutnya. Demikian seterusnya, hingga tinggal satu pemain yang tersisa, dan dijadikan sebagai tukang tebak ( di sebut diare )

Tahap II ( mengare), pemain yang bergas mengare diurutkan dari yang aling dahulu dianggap menang. Cara mengare adalah sebagai berikut : pemain yang di-are duduk berhadapan dengan pemain yang mengare (B). B kemudian menyanyikan lagu” Arebang” sambil mengangkat kedua tangannya untuk diletakkan di samping kepala. Lagu dilanjutkan dengan ji, bersamaan dengan itu B meletakkan tangannya dilutut si diare sambil mengacungkan salah satu jarinya. Bersamaan dengan itu, si diare juga mengacungkan salah satu jarinya, dan apabila jarinya sama dengan jari yang diacungkan oleh B, maka B harus berhenti mengare. Namun bila diare tidak berhasil menebaknya, maka si B melanjutkan mengarenya dengan lagu “ji abang loro”. Bila belum berhasil menebak lagi, iringan lagu dilanjutkan sampai nga bang sepuluh “.

Bila masih belum berhasil menebak juga, maka tahap III adalah wayangan. Cara mengadakan wayangan sebagai berikut : B menyanyikan lagu “gung gung dang gentak gendang”. Pada waktu kata “dang gentak”’ B mengangkat salah satu tangannya dan ditirukan oleh diare. Ketika kata “gendang”, B memegang salah satu anggota tubuh diare, misalnya telinga, hidung, atau perut. Hal ini ditirukan juga oleh diare. Dengan demikian, selesailah tugas B mengare si diare, dan dilanjutkan oleh pemain lainnya sesuai urutan menang untuk mengare. sekian sahabat!!!!

permainan dham-dhaman

Permainan tradisional yang menggunakan bidang petak-petak semacam papan catur, yang disebut dham-dhaman atau ada juga yang menyebut dengan nama bas-basan. Petaknya dapat di gambar di atas tanah, tegel atau yang lain. Bentuk petaknya seperti gambar di samping. Dalam satu petak di bagi untuk dua pemain.yang di butuhkan dalm permainan ini selain gambar petak juga diperlukan biji, kerikil atau yanglainya tetapi antara dua pemain tersebut tidak boleh sama agar dapat di bedakan mana milik si A dan mana milik si B (misalnya pemain A menggunakan batu kerikil dan pemain B menggunakan biji asam). Jumlah yang di butuhkan oleh setiap pemain adalah 16 biji.

Cara bermainnya

masing-masing prajurit bergerak maju untuk menyerang daerah lawan, dengan arah jalan ke depan, ke kanan, dan ke kiri, dan mundur pokoknya bebas tapi Cuma boleh satu langkah. Cara membunuh prajurit lawan dengan melompatinya, dan menempati tempat yang kosong. Prajurit yang dilompati berarti mati dan dikeluarkan dari daerah permainan.dengan peraturan hanya boleh melompati satu prajurit tidak boleh lebih. Bila salah satu kubu prajuritnya habis, berarti kalah. Biasanya permainan ini akan di mulai lagi.

Dolanan Lintang Alihan

gambarnya nggak nyambung ya??? haha, terpaksa soalnya udah muter-muter gak ketemu.

Kalau dilihat dari namanya permainan ini memang berada di jawa tapi tepatnya di yogyakarta dan sekitarnya. Jenis permainan tradisional anak-anak yang cara memainkannya meniru bintang yang berpindah tempat. Nama permainan ini berati bintang mempunyai arti bintang bersinar yang tampak berpindah tempat. Jumlah pemain tidak terbatas, namun agar permainan ini semakin meriah, dibutuhkan jumlah pemain minimal 15 anak.

Cara bermainnya

Semua pemain berkumpul, kemudian diundi dengan cara hom pim pah dan ping sut untuk menentukan pemain yang harus dadi ( jadi ). Misalkan A yang harus dadi, maka anak-anak yang lainnya segera berlari untuk mencari pasangan berdua-dua. A yang dadi mengejar salah seorang pemain yang masih sendirian karena belum mendapat pasangan.

Masing-masing pasangan ini harus tetap waspada karena sewaktu-waktu akan ada orang yang dating ( menclok ), sehingga salah satu dari mereka harus lari mencari pasangan, maka A harus segera lari menjauhi pemain tersebut untuk mencari pasangan atau menclok pada satu pasangan pemain lainnya. Demikian seterusnya, permainan dilanjutkan sampai para pemain bosan.

Oleh karena itu permainan ini dilakukan oleh banyak anak dan melakukan kejar-kejaran, maka permainan ini membutuhkan tempat yang luas dan terbuka seperti di tanah lapang, di halaman rumah, atau di halaman sekolah. Nah... setelah sahabat tadi membaca potingan ini pasti sekarang sahabat udah tau apa nama permainan ini di tempat sahabat?

Dolanan Gatheng

Permainan tradisional anak-anak yang biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan, dengan menggunakan batu kerikil sebagai alat mainnya. Kata gatheng sendiri berasal dari nama batu mainan Raden Rangga, Putra Panembahan Senapati dari Mataram ( ± abad ke 17 ). Batu gatheng tersebut samapi sekarang masih dapat dilihat di Kotagede, sebelah tenggara Yogyakarta, yang merupakan kota bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam.

Perlu sahabat ketahui sebenarnya permainan Gatheng ini merupakan permainan bekelan versi tradisional. Permainan ini di daerah lain juga di sebut dengan watu gatheng, batu lima dll

Cara bermain

Permainan gatheng pada umumnya dilakukan oleh dua anak atau lebih yang duduk di lantai saling berhadapan. Para pemain menyiapkan lima batu kerikil atau lebih, kemudian diundi (sut) untuk menentukan siapa yang bermaian dahulu. Pemain yang mendapat giliran bermain menyebar kelima kerikil ke lantai di depannya dan diusahakan agar kelima kerikil tersebut saling dilemparkan ke atas. Kemudian pemain mengambil salah satu kerikil untuk selanjutnya dilemparkan ke atas. Kemudian pemain mengambil satu kerikil untuk selanjutnya dilemparkan ke atas. Bersamaan dengan kerikil dilempar ke atas, pemain mengambil satu kerikil, sambil menangkap kerikil yang dilempar ke atas.

Sampai semuanya terambil jika tidak terambil, dan kerikil yang dilempar ke atas jatuh ke lantai, maka pemain tersebut berarti mati dan permainan digantikan pemain yang lainnya. Namun jika tahap ini berhasil, maka kelima kerikil tersebut disebar kembali, dan pada saat salah satu kerikil dilempar ke atas, ia sekaligus mengambil dua kerikil dilempar ke atas, ia sekaligus mengambil dua kerikil, kemudain dua kerikil lainnya lagi. Tahap ini disebut saku goro atau goro.

Langkah berikutnya adalah saku galu, yaitu kelima kerikil disebar kembali, dan pada saat salah satu kerikil dilempar ke atas, ia harus mengambil sekaligus tiga kerikil. Setelah berhasil, lalu ketiga kerikil tersebut diletakan dahulu, baru selanjtnya mengambil satu kerikil sisanya. Jika tahap ini berhasil, dilanjtkan dengan langkah saku gapuk atau gapat. Pada langkah ini pemain menempatkan keempat kerikil saling berdekatan, dan kalau bisa ditumpu. Setelah itu kerikil satunya dilempar ke atas. Bersamaan dengan itu, ia harus dapat mengambil sekaligus ke empat kerikil tersebut

Langkah berikutnya adalah saku umbul, yaitu pemain melemparkan satu persatu kerikil yang digenggamnya, kemudian kembali ditangkap, bisa dengan tangan kiri atau tangan kanan. Langkah berikutnya adalah sapu gapuk atau gapat, yaitu pemain melemparkan salah satu kerikil ke atas, kemudian mengambil keempat kerikil sisanya sekaligus menangkap kembali kerikil yang dilempar ke atas. Langkah terakhir bagi pemain untuk memperoleh sawah ( nilai ) adalah saku dulit. Langkah ini, pemain harus menggemgam kelima kerikil tersebut, kemudian ia memilih satu salah satu kerikil untuk dilempar ke atas.

Bersamaan dengan itu ia harus mencolek tanah dengan itu ia harus mencolek tanah dengan telunjuknya sambil tetap menggenggam ke empat kerikil yang lain, setelah itu segera menangkap kembali kerikil yang dilempar ke atas. Masing-masing langkah tersebut jika tidak berhasil dilakukan, berarti ia mati dan permainan digantikan oleh pemain lainnya.

Secara ringkas inilah tahapan yang harus dilalui saku awal, saku garo, saku galu, saku gapuk, saku umbul, saku garuk, saku dulit, dan saku sawah. Tujuan dari permainan gatheng ini untuk mengisi waktu senggang.

download

Selamat datang sahabat…… ini meruakan halaman download, di halaman ini terdapat berbagai jenis aplikasi yang dapat sahabat download.



Kategori yang pertama adalah kategori lagu!!! Lho kok lagu sich? katanya tentang permainan nanak? gimana sichhhh? Oe…….tenang dulu! Sabar dulu sahabat, biar saya jelasin duduk permasalahanya. Jadi gini lagu yang ada disini bukan sembarang lagu, tapi merupakan lagu permainan anak tradisional yang sudah di modifikasi dengan musik modern sehingga sahabat sekalian nggak akan bosen dengerinnya.



Ini dia lagu wajib permainan anak yang dulu pernah berjaya pada masanya en- asyik bgt dech.

Padang Bulan
Yo, poro konco dolanan ning jobo
Padang mbulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

download



Kalau ini sih pasti banyak yang tahu!!! Ato malah nggak tahu sama sekali???
Judulnya adalah ……… (taraa…a..).

cublak-cublak suweng
Cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter
mambu ketundung gudel
…………………………

download



Lagu ini judulnya sama seperti permainanya, yaitu JAMURAN. Bagi sahabat yang nggak tahu tapi kepingin tahu permainannya di anjurkan melihat artikel yang telah di posting.

Jamuran
Jamuran… jamuran…ya ge ge thok
jamur apa ya ge ge thok
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung
sira badhe jamur apa?

download



Maaf ya sahabat si penulis juga nggak tahu banyak tentang permainan ini, yang di ketahui Cuma lagunya permainan-nya, kalo ada yang tahu si penulis di beritahu donx!!!

Kidang Talun
Kidang talun
mangan gedang talun
mil kethemil…mil kethemil
………………………………..

download



Untuk lagu ini nggak perlu di pertanyakan lagi, pasti sahaba semua udah tahu. Karena apa? Lagu ini masih banyak di nyanyikan oleh oran-orang meskipun dengan berbagai versi.

Lir Ilir
Lir ilir, lir ilir, tandure wis sumilir
tak ijo royo-royo tak sengguh penganten anyar
………………………………………

download

Dolanan Lepetan

Hai... sahabat!! Ma-af ya sahabat nampilin postingan tentang permainan lepetan cuma bisa segini, soalnya aku memang betul – betul gak tahu dan sulit mau cari sumber maupun narasumber.Yang penting, meskipun Cuma sedikit paling nggak bisa nambah pengetahuan kita. Permainan ini di kenal di Yogyakarta dan sekitar dengan nama LEPETAN. Permaian tradisional anak-anak yang biasanya dimainkan oleh anak-anak terutama oleh anak perempuan.

Cara bermain

Jumlah anak yang dbutuhkan dalam permainan ini tidak ada aturanya ya paling tidak ada tiga anak atau lebih banyak anak lebih bagus karena semakin ramai. anak-anak berbaris dan bergandengan tangan. Seorang berpegangan pada pohon sebagai pangkal. Kemudian dari pemain ujung menyusup ke ketiak pangkal dan seterusnya, hingga semua pemain kedua tangannya mendekap pada dada. Pemain ujung melepaskan diri, kemudian seolah-olah ia membagi-bagikan nasi denganlauk, sambil berkata

Nya sega, nya sega….nya lawuhe

yang artinya

ini nasi, ini nasi ……ini lauknya”.

Dan pada giliran paling akhir si pembagi berkata “ Enya wakule”, yang artinya “Ini bakulnya” Anak yang menerima bakul tersebut, dalam permainan berikutnya berganti menjadi pembagi dan berada paling ujung. Permainan akan berakhir jika anak-telah merasa lelah atau bosan. permainan ini tidak ada yang menang taupun yang kalah, ermainan ini hanya untuk bersenang-senang belaka.

Permainan Ta’ Patung

Nama permainan ini ada yang mengenal dengan nama ta’ Patung , patung-patungan, putri salju dll. Cara bermainya pun mungkin agak berbeda tetapi intinya pasti sama. Sedangkan yang akan kita bahas sekarang adalah…??? Yap.. betul sahabat versi putri salju.

Cara Bermain

Permainan ini dimainkan oleh anak laki-laki maupun perempuan Pemain yang di butuhkan dalam permainan ini semakin banyak semakin baik, minimal 5 orang agar permainan ini semakin hidup. Area yang luas juga diperlukan karena permainan ini intinya adalah bermain kejar-kejaran.

Permainan di mulai dengan anak-anak membentuk lingkaran dan salah seorang anak menunjuk-nunjuk anak yang ikut bermain sambil bersama menyayikan lagu wajib permainan ini:

Ma.. ma pergi, pa..pa pergi
ku duduk manis melihat tali
ku gantung diri talinya putus
digigit tikus tikusnya empat
pak jamal lewat lewat kuburan
melihat pocong berbaju putih
putih-putih melati alibaba
merah merah delima pinokio
siapa yang baik hati cinderella
tentu di sayang mama
burung iri burung irian
putri salju berubah menjadi patung

setelah lagu selesai dinyanyikan, pemain yang ketunjuk pada “menjadi patung” dia di nyatakan “dadi” lau tugasnya menghitung 1-10 sedangkan pemain yang lain harus mengikuti hitungan dari nyang “dadi” tadi. Dengan peraturan seperti ini:

Pada hitungan 1-10 mereka tidak boleh bergerak atau tersenyum sampai kelihatan giginya. Para pemain setiap hitingan harus berganti gaya misalnya pada hitungan 1 (ada yang duduk , berdiri, tangan diatas,dll), pada hitungan 2 harus ganti gaya lagi(misal yang tadi tanganya di atas menjadi di bawah) dan seterusnya sampai hitungan ke 10.

Sedangkan tugas dari pemain yang “dadi” selain menghitung sampai sepuluh adalah menggangu atau menggoda pemain yang lain agar tertawa atau bergerak, karena kalau ada pemain yang bergerak maka tugasnya akan di gantikan.

Setelah hitungan sampai 10 selesai, pemain yang “dadi” dinyatakan kalah. Permainan kejar-kejaran pun di mulai. Pemain yang kalah harus mengejar pemain lain dan menyentuhnya untuk menggantikan dirinya sebagai yang kalah. Pemain akan lari berhamburan, mereka tidak akan kena apabila tidak bergerak atau berpura-pura menjadi patung, maka pemain yang kalah akan mengejar pemain yang lain. Cuma, ketika jadi patung, pemain juga gak bisa tiba-tiba gak jadi patung lagi. Untuk menghentikan pemain dari ’jadi patung’, seorang teman harus ’membangunkan’ pemain yang jadi patung tadi dengan cara menyentuh dan teriak ’BANGUN!’. Baru abis itu para pemain bisa lari-larian lagi.

Yang kasihan kalo semua pemain udah jadi patung, dan tinggal satu pemain yang dikejar-kejar terus sama yang jaga, dan kita gak bisa bangunin temen-temen yang lain, karena dihalang-halangin sama yang jaga. Kalo ini yang terjadi, biasanya kejar-kejarannya berlanjut sampai jauh ATAU akhirnya kita kena – gantian jaga, dan temen-temen yang lain dibangunin sama temen kita yang udah berganti peran itu. Begitu seterusnya permainan pun terus dilanjutkan yang di iring dengan tawa anak-anak yang renyah.....

Kenapa simbol @ ada di alamat email ?

Anda pasti sudah tahu, kalau untuk penulisan email, selalu menggunakan simbol @. Tapi, tahukah anda sebabnya ?

Simbol @ ini merupakan simbol yang paling banyak diterima/digunakan, bahkan dalam berbagai bahasa. Kita menyebutnya at sign (edsain). Kalau teman saya biasa mengatakan “a jungkir” (maksudnya huruf a yang terjungkir/terbalik :) ).

Ada puluhan kata berbeda yang digunakan untuk menjelaskan arti dari simbol tersebut. Banyak bahasa menggunakan kata-kata yang mengasosiasikan bentuk simbol dengan beberapa jenis binatang.

Contohnya :

apestaart - Belanda untuk "ekor monyet"

snabel - Denmark untuk "bagasi gajah "

kissanhnta - Finlandia untuk "ekor kucing "

klammeraffe - Jerman untuk "monyet menggantung"

kukac -Hungaria untuk "cacing"

dalphaengi - Korea untuk "siput"

grisehale - Norwegia untuk "ekor babi "

sobachka - Rusia untuk "anjing kecil"

Sebelum menjadi simbol standar untuk e-mail, simbol @ biasanya digunakan untuk menunjukkan biaya atau satuan berat. Misalnya, jika Anda membeli lima buah jeruk, masing-masing seharga $ 1,25 / jeruk, Anda dapat menulisnya 5 buah jeruk masing-masing seharga @ $ 1.25 . Cara penulisan seperti ini masih digunakan untuk berbagai formulir dan tagihan di seluruh dunia.

Permainan Donal Bebek


Di daerah Yogyakarta permainan ini di kenal dengan nama permainan donal bebek karena dterdapat kata-kata donal bebek dalam permainanya. Pemain yang di perlukan adalah semain banyaak semakin baik dan yang jelas adalah tempat yang digunakan harus luas misalnya halaman rumah, lapangan dan lainya.







Cara bermain

Anak-anak berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran lingkaran yang lumayan dekat kemudian secara bersama sama mereka meneriakkan:

Donal bebek
Mundur tiga langkah
1... 2... 3....

Pada teriakan 1.. 2.. 3.. mereka akan meloncat-loncat kebelakang sebanyak tiga kali. Setelah itu ada seorang anak sebagai penunjuk sambil mereka secara bersama-sama menyayikan lagu:

Bintang mas keluar
Adik saya gigit ular
Ular ular naga
Naganya naga sari
Sari sari ayam
Ayamnya ayam jago
Jago jago tinju
Tinjunya alyas pikal

Alyas pikal merupakan pemain tinju terkenal asal indenesia. Kembali lagi ke permainan tadi setelah nyanyianya selesai pemain yang ketunjuk pada kata pada kata “tinjunya alyas pikal”, dia harus melompat dan kakinya mengenai kaki pemain lainya. Pemain lain boleh menghindar jika tidak kena maka diulangi lagi dari nyanyian bintang mas keluar.... Setelah ada yang terkena terinjak kakinya maka anak itu dinyatakan kalah (sebagai pemain yang jaga) maka permainan akan di teruskan dengan anak yang kalah duduk di tengah di kelilingi pemain lain yangberjalan mengelilingi pemain yang kalah tadi sambil menyanyikan lagu

Anak ayam di cubit-cubit
Ditendang-tendang......dst

Maaf ya sahabat lagu yang terahir ini aku nggak hafal. Yang intinya setelah lagu itu selesai dinyanyikan pemain yang mengelilingi pemain yang jongkok tadi lari berhamburan. Sedangkan pemain yang jongkok harus mengejar dan menyentuh pemain lain dan teriak ”KENA!”, supaya semua orang tau bahwa yang jaga udah ganti orang.

Kalo pemain yang kalah tadi mengejarnya sudah dekeeeeeet banget, dan pemain gak mau banget di-kena-in, caranya mudah. Tinggal buru-buru jongkok. Karena kalo udah jongkok, dia gak bisa ngena-in kita dan harus cari target lain.

Meskipun simpel, permainan ini tetep perlu perhitungan. Karena tidak jarang terjadi seseorang di’kena’in pas dia lagi ambil ancang-ancang jongkok. Jadinya, posisi gantung setengah berdiri setengah jongkok dan dia harus jaga.

Setelah pemain itu jongkok tidak boleh seenaknya sendiri terus berdiri mereka harus menunggu di sentuh temanya atau berjalan sambil jongkok dan mencari teman lain yang masama-sama jongkok untuk bersentuhan supaya bisa berdiri.

Dolanan Dhingklik Oglak-aglik

Salah satu jenis permainan tradisional anak-anak yang cara memainkannya meniru suatu bentuk bangku (dhingklik ) yang digunakan untuk duduk, yang keadaannya tidak stabil sehingga akan mudah goyah ( oglak-aglik). Permainan ini dimainkan oleh tiga, empat, atau lima anak dalam satu kelompok, yang sebaiknya seusia, sama besar, dan sama tinggi, agar dapat menjaga keseimbangan suatu bentuk dhingklik yang oglak –aglik




Cara bermain

Permainan ini dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, semua pemain berdisi berhadap-hadapan dengan tangan saling bergandengan. Misalkan pemain tersebut adalah A, B, C, dan D

Tahap kedua, B dan C menerobos ( mbrobos ) di bawah lengan A dan B, sehingga para pemain berdiri dengan saling bertolak belakang dan tangan tetap bergandengan.
Tahap ketiga, setiap peserta mengangkat salah satu kakinya kea rah dalam lingkaran, kemudian masing-masing kaki saling dikaitkan untuk membentuk suatu posisi yang kokoh sehingga tidak akan mudah jatuh,

Tahap terakhir, tangan yang saling bergandengan dilepaskan, lalu kedua tangan bertepuk tangan. Para pemain melonjak-lonjak sambil bertepuk menyanyikan lagu :

Tembang dingklik oglak-aglik

Pasang dhingklik oglak-aglik,
yen kecelik adang gogik,
yu yu mbakyu mangga dhateng pasar blanja,
leh olehe napa,
jenang jagung enthok-enthok jenang jagung,
enthok-enthok jenang jagung,
enthok-enthok jenang jagung.

Lirik lagu ini dinyanyikan sepanjang permainan. Tidak menutup kemungkinan, kaitan kaki sudah terlepas ketika lagu belum selesai dinyanyikan, maka selesai sudah permainan ini.

Meskipun permainan ini tidak memerlukan perlengkapan apa pun untuk menunjang jalannya permainan, namun memerlukan tempat yang cukup luas agar terjadi keseimbangan dan kekompakan diantara para pemain dalam membentuk dhingklik

Dolanan Ancak-ancak Alis (incak-incak alis)

Apa kabar sahabat? Mungkin nama permainan ini sangat asing di telinga sahabat tapi permainan ini sebebenarnya merupakan versi lain dari permainan Ular Naga. Sekarang sahabat pasti udah tau!! Ya minimal udah bisa ngebayangin.... Selain ada yang menyebut dengan Ancak-ancak Alis juga Ada yang menyebut dengan Incak – Incak Alis. Permainan ini merupakan Jenis permainan tradisional anak-anak yang bersifat rekreatif, yang dalam proses permainannnya menggunkan istilah-istilah yang berhubungan dengan pertanian, ketentuan jumlah pemain dalam permainan ini tidak ada, karena semakin banyak anak-anak yang terlibat dalam permainan ini akan semakin meriah. Tempat permainan dipilih yang luas dan rata.


Cara bermain

pertama-tama semua pemain bersepakat untuk memilih dua orang di antara mereka yang cenderung memiliki kekuatan, ketinggian dan besar badan yang sama untuk mejadi petani. Kedua petani ini segera menyingkir dari kelompok permainan ini untuk berunding mengenai nama-nama yang diambil dari istilah pertanian, missal A memilih nama jagung dan B memilih nama kacang. Kemudian kedua petani berdiri berhadapan dengan kedua tangan diangkat ke atas dan kedua telapak saling ditempelkan sehingga membentuk seperti pintu gerbang. Kedua telapak tangan mereka saling bertepuk tangan sambil menyanyikan ancak-ancak alis. Lirik lagu ini di masing-masing daerah Jawa terjadi perbedaan. Lirik lagu tersebut di wilayah Yogyakarta adalah:

Ancak-ancak alis
si alis kabotan kidang
anak-anak kebo dhungkul
si dhungkul bambang tego
tego rendheng ,enceng-enceng gogo beluk
unine pating jerapluk
ula apa ula dumung
gedhene salumbung bandhung
sawahira lagi apa,wong deso?

Anak-anak yang lain berdiri urut memanjang diawali dari yang terbesar badannya, sambil memegang ujung baju teman yang berada di depannya, lalu berjalan berkeliling. Ketika lagu berakhir pada kata “Sarahira lagi apa, wong desa?”, barisan tersebut berada di samping kedua petani. Pemain yang terdepan menjawab pertanyaan tersebut dengan “lagi ngluku ( sedang membajak)”.

Kemudian kedua petani menyanyikan lagi lagu ancak-ancak alis, dan pemain lainnya mulai berjalan berkeliling lagi. Bila lagu sudah selesai pada akhir kalimat, maka sudah pemain paling depan harus menjawab dengan jawaban nama-nama tahapan dalam menanam padi. Demikian seterusnya berulang-ulang. Ketika mendapat jawaban “lagu wiwit ( baru menuai )’, anak yang paling belakang segera berlari keluar dari barisan untuk mengambil daun-daunan yang berada di sekitar tempat permainan, dan segera menuju ke barisan semula, lalu disusul oleh kedua petani yang berada di barisan paling depan.
Barisan segera berjalan berbelitan membentuk angka delapan sambil menyanyikan :

menyang pasar kadipaten leh olehe jadah manten,
menyang pasar ki jodog, leh olehe Cina bidhung



Setelah itu kedua petani berdiri dengan tangan membentuk terowongan sambil menyanyikan lagu ancak-ancak alis, dan para pemain berdiri dalam satu barisan melewati terowongan tersebut sambil menjawab “lagi panen (sedang panen)”. Anak yang tertangkap terowongan ditanya, “Kali ini akan menanam apa, kacang atau jagung?”. Jika memilih jagung maka harus berada di belakang petani A, dan jika memilih kacang berada dibelakang B (menjadi pengikut si B). Demikian seterusnya hal ini diulang-ulang sampai pada pemain terakhir dalam barisan, petani menyanyikan lagu “dikekuru, dilelemu,dicecenggring,digegiring”.

Kemudian kedua petani mengurung anak tersebut dengan kedua tangannya sambil berkata: “kidang lanang apa wadon, yen lanang mlumpata, yen wadon mbrobosa”. Anak tersebut berusaha keluar, dan diminta memilih salah satu petani. Petani yang mempunyai anak dibelakangnya lebih banyak, dianggap menang. Penentuan menang kalah dapat juga dilakukan dengan cara adu kekuatan, yaitu tarik menarik antara kedua petani dengan dibantu oleh anak semang masing-masing.

Setelah membaca tulisan diatas gimana sahabat? Permainan ancak – ancak Alis nggak kalah asyik kan dengan ular naga!! Kalau di tanya bedanya dengan permainan Ular Naga Cuma pada lagu dan permainan lebih panjang permainan Ancak-ancak Alis.

Permainan egrang

Permainan ani sudah tidak asing lagi, mekipun di berbagai daerah di kenal dengan nama yang berbeda beda. saat ini juga sudah mulai sulit di temukan, baik di desa maupun di kota,

tetapi saat permainan ini mulai di kombinasikan dengan berbagai hal sehingga dapat berdampingan dengan dunia yang di katakan modern ini.

yang akan di ulas kali ini permainan egrang yang ada di sulawesi tengah atau di kenal dengan nama tilako.



Permainan Egrang cukup terkenal di nusantara ini misanya di daerah Sulawesi Tengah adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Di sana ada satu suku bangsa yang bernama Kaili. Di kalangan mereka ada satu jenis permainan yang disebut sebagai tilako (nama lain dari permainan eggrang), yaitu sebuah permainan berjalan menggunakan alat yang terbuat dari bambu dan pelepah sagu atau tempurung kelapa. Tilako disamping nama sebuah permainan juga sekaligus nama alat yang digunakan untuk permainan tersebut. Tilako itu sendiri merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “ti” dan “lako”. “Ti” adalah kata awalan yang menunjukkan kata kerja dan “lako” secara harafiah berarti “langkah/jalan”. Dalam permainan ini “tilako” adalah alat yang dipakai untuk melangkah atau berjalan. Permainan ini dalam dialek Rai disebut kalempa yang juga merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “ka” dan “lempa”. “Ka” adalah kata awalan yang menunjukkan kata kerja dan “lempa” berarti “langkah”.Permainan ini ada juga yang mengenal dengan nama jejangkungan.Cara memainkan permainan ini sebenarnya beragam ini hanyalah salah satu dari banyak cara.

Pemain

Permainan egrang dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya permainan ini dilakukan dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia 7--13 tahun. Jumlah pemainnya 2--6 orang.

Tempat dan Peralatan Permainan

Permainan egrang ini tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang khusus. Ia dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tepi pantai, di tanah lapang atau di jalan. Luas arena permainan tilako ini hanya sepanjang 7--15 meter dan lebar sekitar 3-4 meter.

Peralatan yang digunakan adalah dua batang bambu bata (volo vatu) yang relatif lurus dan sudah tua dengan panjang masing-masing antara 1,5-3 meter. Cara membuatnya adalah sebagai berikut. Mula-mula bambu dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya masing-masing sekitar 2½-3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain menjadi dua bagian dengan ukuran masing-masing sekitar 20-30 cm untuk dijadikan pijakan kaki. Selanjutnya, salah satu ruas bambu yang berukuran panjang dilubangi untuk memasukkan bambu yang berukuran pendek. Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut siap untuk digunakan.

Aturan Permainan

Aturan permainan egrang dapat dibagi menjadi dua, yaitu perlombaan lari dan pertandingan untuk saling menjatuhkan dengan cara saling memukulkan kaki-kaki bambu. Perlombaan adu kecepatan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 7-11 tahun dengan jumlah 2--5 orang. Sedangkan, permainan untuk saling menjatuhkan lawan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 11-13 tahun dengan menggunakan sistem kompetisi.

Jalannya Permainan

Apabila permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari), maka diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu masing-masing. Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain egrang, mereka dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan tangga dan baru berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, para pemain akan berlari menuju garis finish. Pemain yang lebih dahulu mencapai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya.

Sedangkan, apabila permainan bertujuan untuk mengadu bambu masing-masing pemain, maka diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilakukan secara musyawarah/mufakat. Setelah itu, mereka akan berdiri berhadapan. Apabila telah siap, peserta lain yang belum mendapat giliran bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan mulai mengadukan bambu-bambu yang mereka naiki. Pemain yang dapat menjatuhkan lawan dari bambu yang dinaikinya dinyatakan sebagai pemenangnya.

Nilai Budaya

Nilai budaya yang terkandung dalam permainan egrang adalah: kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar dapat mengalahkan lawannya. Nilai keuletan tercermin dari proses pembuatan alat yang digunakan untuk berjalan yang memerlukan keuletan dan ketekunan agar seimbang dan mudah digunakan untuk berjalan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (gufron)

Permainan Batewah (Kalimantan Selatan)

1. Asal usul

Batewah berasal dari kata “tiwah”, yaitu suatu upacara yang dilakukan oleh penganut Kaharingan di pedalaman Kalimantan dalam rangka mengantarkan arwah kerabat yang meninggal ke surga. Perkiraan kata “tewah” berasal dari “tiwah” didasarkan pada adanya kesamaan bentuk permainan dengan salah satu bagian upacara. Dalam upacara tiwah, keluarga yang melaksanakannya membeli seekor kerbau besar atau sapi untuk dijadikan kurban. Selama upacara berlangsung, kurban diikat pada tongkat kayu dan seluruh keluarga mengelilinginya. Masing-masing anggota keluarga memegang tombak, kemudian melemparkannya ke kurban terus menerus sampai kurban tidak berdaya lagi. Setelah itu, baru disembelih untuk dimakan bersama.

Sedangkan dalam permainan batewah, yang menjadi sasaran adalah kayu yang disusun menyerupai susunan untuk api unggun (bukan binatang kurban). Dalam permainan ini, susunan kayu dilempari sampai roboh. Meskipun demikian, permainan ini tidak ada unsur religi (magisnya).

2. Pemain

Minimal, batewah dilakukan oleh 3 orang pemain, dengan rincian: 1 pemain jaga/pasang dan 2 pemain penewah (bersembunyi). Sedangkan, maksimal dilakukan oleh 8 pemain. Permainan ini tidak berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Oleh karena, itu bisa dilakukan oleh anak laki-laki dan atau perempuan.

3. Tempat dan Peralatan Permainan


Permainan batewah dapat dilakukan di halaman rumah atau di tanah yang cukup lapang agar kayu yang dijadikan pelempar tidak membahayakan. Peralatannya sederhana dan mudah didapat. Sebelum bermain disiapkan beberapa buah kayu yang panjangnya kurang lebih 30 cm dan lebar 3 cm. Kemudian, disusun sedemikian rupa sebagai sasaran untuk di-tewah. Disiapkan juga potongan kayu lain sebagai undas/alat pelempar kayu yang disusun dengan jarak minimal 4 meter.


4. Aturan dan Proses Permainan

Setelah tempat dan peralatan permainan tersedia, maka pelempar berusaha untuk mengenai tumpukan kayu. Jika tumpukan kayu itu kena dan roboh, maka pemain jaga menyusun kembali, sementara pemain yang lain bersembunyi. Setelah tersusun, pemain jaga mencari pemain lain yang bersembunyi. Dan, pemain yang pertama kali ditemukan akan menjadi pemain jaga. Dalam permainan ini tidak ada kalah atau menang. Biasanya permainan akan berakhir jika para pemainnya sudah merasa kelelahan.



5. Nilai Budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan batewah adalah ketangkasan dan sportivitas. Nilai ketangkasan tercermin dalam penyusunan kayu yang roboh dalam waktu yang relatif singkat. Kemudian, nilai sportivitas tercermin ketika tempat persembunyiannya diketahui oleh pemain jaga, maka yang bersangkutan bersedia menjadi pemain jaga. Dalam hal ini adalah menyusun kayu dan mencari pemain lain yang bersembunyi.

Permainan Pam Semambu

Pam Semambu adalah sejenis permainan anak-anak, termasuk khazanah seni tradisionil yang dimainkan oleh anak-anak di Sumatera Timur. Permainan sederhana ini memadukan unsur seni, unsur pendidikan dan unsur olah raga.

Cara Permainan

Jenis permainan anak-anak sederhana, dimainkan oleh 3 orang anak atau lebih, duduk sambil meletakkan kedua telapak tangan telungkup di lantai. Seorang bertindak sebagai juru bagi (biasanya tidak ikut dalam permainan, namun bila ingin juga ikut maka ia meletakkan sebelah tangannya juga dilantai). Bila peserta permainan banyak, maka juru bagi berada ditengah lingkaran, bila peserta sedikit maka ia dapat berada dalam lingkaran. Juru bagi akan menepuk satu persatu punggung tangan peserta sesuai penggalan suku kata yang dinyanyikan bersama, berlawanan arah jarum jam, sambil menyanyikan lagu Pam Semambu.

Setiap akhir lagu merupakan tepukan akhir pada punggung tangan peserta, maka peserta tersebut berhak mengeluarkan tangan tersebut dari ronde berikut dan meletakkan tangannya menyilang dada memeluk bahunya. Demikian seterusnya ronde demi ronde diiringi dengan lagu sampai tinggal satu tangan yang tersisa telungkup di lantai. Pemilik tangan tersebut dinyatakan kalah dan diharuskan untuk membuka tangan yang bersidekap bahu menyilang dada salah seorang yang dipilihnya.

Sebelum usaha membuka, dia harus permisi dahulu dengan mengatakan :

"Tolong bukakan pintu"

Dan dijawab oleh orang yang dipilihnya untuk dibuka tangan yang bersidekap tersebut dengan :

"Tak ada kunci" bila ia merasa mampu mempertahankan dekapan tangannya

atau :

"Silahkan masuk" bila ia merasa tak mampu mempertahankan dekapan tangannya, dan dianya langsung dinyatakan kalah

Setelah mendapat jawaban "Tak ada kunci" tersebut barulah upaya membuka tangan yang bersidekap tersebut diperbolehkan. Bila dia berhasil membuka satu tangan yang bersidekap, maka tangan yang sudah berhasil dibuka tidak boleh kembali lagi kebahu, tinggal sebelah tangan lagi yang harus dibuka olehnya. Ketika berhasil membuka kedua tangan yang bersidekap, maka ia kembali boleh menjadi peserta putaran berikut dan orang yang tangannya berhasil dibuka dinyatakan kalah dan menjadi juru bagi pada putaran berikut atau keluar dari gelanggang permainan. Sebaliknya, bila ia tidak berhasil membuka kedua tangan yang bersidekap dari orang yang dipilihnya tadi, maka ialah yang dinyatakan kalah dan menjadi juru bagi pada putaran berikut atau keluar dari gelanggang permainan. (keluar gelanggang atau menjadi juru bagi putaran berikut, tergantung kesepakatan awal sebelum memulai permainan)

Upaya membuka dekapan tangan dibahu dan upaya mempertahankan dekapan tangan tersebut dilakukan dalam keadaan duduk bersila dilantai.

Unsur Olahraga

* Peregangan (stretching)
* Abduksi
* Adduksi

Bagian yang dilatih

* Otot biseps
* Otot triseps
* Otot-otot bahu
* Otot-otot pinggang

Unsur Seni

* Seni suara (lagu sangat mudah untuk melatih kemampuan anak-anak menggunakan suara satu dan suara dua, sopran dan alto)

Lagu Pam Semambu

Pam Se-mam-bu Kua-la Sam-bau

Hu-jan Ju-nut Man-di Ka-tung

Si-rih Ra-bit Pi-nang Ja-wa

Min-ta Pe-luk Tuan Put-ri

Se-be-lah

jadi ada 34 ketukan untuk satu ronde, dan punggung tangan yang terakhir ditepuk pada suku kata "lah" dari kata sebelah diakhir nyanyian itulah yang berhak keluar dari lingkaran pada ronde berikut dan didekapkan kebahu oleh siempunya punggung tangan, sementara tangannya yang sebelah lagi masih tetap ikut dalam ronde berikut

Unsur Pendidikan

* Tata Cara Permainan
* Budi Pekerti
* Bahasa

Belajat Selezat Coklat - Post Dua

Apa kabar sahabat? Jumpa lagi nih! Postingan yang kemarin kan udah ngomongin yang serem2 tuh! Sekarang uenaknya.. ngomongin apa ya..? apa? Aku setuju, sekarang ngomongin yang paling banyak di demenin hampir semua orang: CINTA (Cihuy.......!) Ingat saat pertama kali jatuh cinta? J (he..he.. kebayang siapa hayo..?) Inget waktu sahabat lagi suka sama seseorang terus orang tersebut juga suka dengan kita? (Ciee.. seneng, tuh!). Terus... terus, setelah tahu hal ini, sahabat rela melakukan apapun demi dia, lembah kan ditimbun, gunung kan digali.. (rata, dong!). Rela nggak makan-minum dan tahan ngantri berjam-jam demi nungguin si doi? (Emang dasarnya antrianya aja yang panjang, ‘kan dulu sama2 mau beli bensin waktu bensin langka..’). Pokoknya kalo udah permintaan sang tercinta, semua hal akan dilakuin deh... (so cuwieet!)

Pernah denger cerita romeo dan juliet? Kalo belum cari aja sendiri....(ma-ap gak kasar’’’’)Intinya ternyata yang dimaksud cinta, nggak melulu untuk manusia. Yang jelas, kalo udah yang namanya cinta. Wow, bisa aneh bin dahsyat, men!! Yang tadinya ngos-ngosan waktu ngejar bis, bisa lari keliling sekolahan bolak-balik karena di kejar anjing (karena cinta pada nyawa sendiri). Yang tadinya nggak bisa lompat nyebrang selokan, bisa lompat jauh demi nyametin anak kecil yang hampir ketabrak(heroik, oei!). Yang tadinya ketiduran saat baca buku pelajaran, bisa betah baca komik semalaman (Lho?). Iya, karena ada rasa senang waktu melakukanya. Ada rasa mengasyikkan yang terus dan terus bikin ketagihan. Nggak mau berenti biar badan udah kecapean dan nggak tahan. Namanya aja cinta.....

Bayangkan seandainya kita bisa jatuh cinta dengan yang Namanya Tidak Boleh Disebut (klo belom tahu dia adalah BELAJAR!!). Saat orang lain pada lari saat dia datang dengan segala bentuknya (ngerangkum, maju ngerjain tugas,bahkan kalo ia datang dengan sosok yang bernama GURU....). Sahabat justru semakin sayang dan merasa kehilangan kalo sehari aja nggak ketemu. Bahkan nggak cukup kalo Cuma ketemu, tapi pinginya berdua-duaaaaaaaaaaaaaaaan melulu. Buntut-buntutnya kamu jadi penasaran dan pengin lebihkenal dengan si dia (yg namanya nggak boleh di sebut!!). Saat kamu udah bener-bener sayang dan jatuh cinta sama dia (tadi itu lho, yg namanya nggak boleh di sebut!), ternyata dia justru ngenalin sahabat dengan teman-temanya dekatnya yaitu: ilmu, pintar, rajin, semangat, gaul dan masih banyak lagi temanya yang lain. Karena sahabat tahu kalo temen-temen dia (yg namanya nggak boleh disebut) itu nggak kalah asyiknya, sahabat jadi tambah cinta. Sampai akhirnya sahabat memberanikan diri untuk membisikan rayuan itu : Belajar, I love YOU...!!!

Permainan Ular Naga

Hai, sahabat....!!! nih postingan kali ini yang akan di tampilin yaitu permainan ular naga. udah tahu kan?? dah pernah denger? klo belom mungkin cuma namanya yang berbeda. Soalnya permainan ini mempunyai nama yang berbeda pada tiap daerah. Yaw udah langsung aja ni....

Ular Naga adalah satu permainan berkelompok yang biasa dimainkan anak-anak Jakarta di luar rumah di waktu sore dan malam hari. Tempat bermainnya di tanah lapang atau halaman rumah yang agak luas. Lebih menarik apabila dimainkan di bawah cahaya rembulan. Pemainnya biasanya sekitar 5-10 orang, bisa juga lebih, anak-anak umur 5-12 tahun (TK - SD).

Cara Bermain

Anak-anak berbaris bergandeng pegang 'buntut', yakni anak yang berada di belakang berbaris sambil memegang ujung baju atau pinggang anak yang di mukanya. Seorang anak yang lebih besar, atau paling besar, bermain sebagai "induk" dan berada paling depan dalam barisan. Kemudian dua anak lagi yang cukup besar bermain sebagai "gerbang", dengan berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan di atas kepala. "Induk" dan "gerbang" biasanya dipilih dari anak-anak yang tangkas berbicara, karena salah satu daya tarik permainan ini adalah dalam dialog yang mereka lakukan.

Barisan akan bergerak melingkar kian kemari, sebagai Ular Naga yang berjalan-jalan dan terutama mengitari "gerbang" yang berdiri di tengah-tengah halaman, sambil menyanyikan lagu. Pada saat-saat tertentu sesuai dengan lagu, Ular Naga akan berjalan melewati "gerbang". Pada saat terakhir, ketika lagu habis, seorang anak yang berjalan paling belakang akan 'ditangkap' oleh "gerbang". Sebelumya yang jaga atau yang menjadi gerbang misal si A dan si B, sebelum permainan dimulai mereka kompromi dulu mau pake pilihan apa, misal buah2an, A Strawberry, si B Apel, tanpa sepengetahuan temen2 yang lain lho

ntar org yg terbelakang/ketangkap ditanya 'pilih apel ato strawberry?'. Kalo pilih strawbery brarti dia ikut A, kalo apel ya ikut B,

Setelah itu, si "induk" --dengan semua anggota barisan berderet di belakangnya-- akan berdialog dan berbantah-bantahan dengan kedua "gerbang" perihal anak yang ditangkap. Seringkali perbantahan ini berlangsung seru dan lucu, sehingga anak-anak ini saling tertawa. Sampai pada akhirnya, si anak yang tertangkap disuruh memilih di antara dua pilihan, dan berdasarkan pilihannya, ditempatkan di belakang salah satu "gerbang".

Permainan akan dimulai kembali. Dengan terdengarnya nyanyi, Ular Naga kembali bergerak dan menerobos gerbang, dan lalu ada lagi seorang anak yang ditangkap. Perbantahan lagi. Demikian berlangsung terus, hingga "induk" akan kehabisan anak dan permainan selesai. Atau, anak-anak bubar dipanggil pulang orang tuanya karena sudah larut malam.

Lagu

Lagu ini dinyanyikan oleh semua pemain, termasuk si "gerbang", yakni pada saat barisan bergerak melingkar atau menjalar.

Ular naga panjangnya bukan kepalang
Menjalar-jalar selalu kian kemari
Umpan yang lezat, itu yang dicari
Kini dianya yang terbelakang

Kemudian, sambil menerobos "gerbang", barisan mengucap "kosong - kosong - kosong" berkali-kali hingga seluruh barisan lewat, dan mulai lagi menjalar dan menyanyikan lagu di atas. Demikian berlaku dua atau tiga kali.

Pada kali yang terakhir menerobos "gerbang", barisan mengucap "isi - isi - isi" berkali-kali, hingga akhir barisan dan anak yang terakhir di buntut ular ditangkap ("gerbang" menutup dan melingkari anak terakhir dengan tangan-tangan mereka yang masih berkait).



Dialog

Kemudian terjadilah dialog dan perbantahan antara "induk" (I) dengan kedua "gerbang" (G). Dialog ini mungkin berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain, dan bahkan juga berbeda-beda sesuai improvisasi si induk dan si gerbang setiap kali seorang anak ditangkap.

I : "Mengapa anak saya ditangkap ?"
G : "Karena menginjak-injak pohon jagung.. "
I : "Bukankah dia sudah kuberi (bekal) nasi ?"
G : "Nasinya sudah dihabiskan "
G2 : (menyeletuk) "Anaknya rakus, sih... "
I : "Bukankah dia membawa obor ?"
G : "Wah, obornya mati tertiup angin.. "
I : "Bukankah .... ?"
G : "..... ", dan seterusnya

Sampai akhirnya si induk menyerah dalam perbantahan. Kemudian, untuk meyakinkan kokohnya "penjara" yang dihadapinya, si induk biasanya menanyakan:
(Sambil menepuk/menunjuk salah satu lengan si "gerbang")

I : "Ini pintu apa ?"
G : "Pintu besi !"
I : "Yang ini ?", (menepuk tangan yang lain)
G : "Pintu api !"
I : "Ini ?" (menunjuk tangan yang lain lagi)
G : "Pintu air !",
I : "Dan ini ?" (menunjuk tangan yang terakhir)
G : "Pintu duri !"

Putus asa, yakin bahwa "penjara" tak tertembus, si induk kemudian menoleh kepada anaknya:

I : "Kau mau pilih 'apel' atau 'strawberry' ?"
A : "Bintang !"

Dan kemudian anak yang malang itu ditempatkan di belakang salah satu "gerbang", yang digelari 'apel' dan menjadi pengikut salah satu yang menjadi gerbang dan memilih apel seperti telah ditentukan sebelum permainan misal si A.
Permainan mulai lagi.............



Kalau di yogyakarta dan sekitarnya permainan ini di kenal dengan nama Incak-incak Alis (Ancak Ancak Alis) yang beda Cuma lagu dan dialognya kalau tata cara permainanya sama yang jelas kalau di yogyakarta menggunakan bahasa jawa, tapi maaf.......... ini aku lagi nyari lagunya belum ketemu tunggu aja postingan selanjutnya........... atau kalo ada yang tahu bisa kasih tahu aku lewat e-mail ku ya.. terima kasih

Permainan Lompat Tali

Permainan ini sudah tidak asing lagi tentunya, karena permainan lompat tali ini bisa di temukan hampir di seluh indonesia meskipun dengn nama yang berbeda-beda. permainan lompat tali ini biasanya identik dengan kaum perempuan. tetapi juga tidak sedikit anak laki-laki yang ikut bermain.

salah satu nama permainan ini yaitu permainan Tali Merdeka yang di kenal oleh masyarakat di propinsi RIAU dan sekitarnya.


1.Asal Usul

Permainan Tali Merdeka adalah sebutan untuk mereka yang tinggal di Provinsi Riau. Di daerah yang masyarakatnya adalah pendukung kebudayaan Melayu ini ada sebuah permainan yang disebut sebagai tali merdeka. Inti dari permainan ini adalah melompat tali-karet yang tersimpul. Penamaan permainan ini ada kaitannya dengan tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan pemain itu sendiri, khususnya pada lompatan yang terakhir. Pada lompatan ini (yang terakhir), tali direnggangkan oleh pemegangnya setinggi kepalan tangan yang diacungkan ke udara. Kepalan tangan tersebut hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh para pejuang ketika mengucapkan kata “merdeka”.

Gerakan tangan yang menyerupai simbol kemerdekaan itulah yang kemudian dijadikan sebagai nama permainan yang bersangkutan. Kapan dan dari mana permainan ini bermula sulit diketahui secara pasti. Namun, dari nama permainan itu sendiri dapat diduga bahwa permainan ini muncul di zaman penjajahan. Sebenarnya di daerah lain indonesia juga banyak di temukan permainan ini tapi dengan nama yang berbeda misal dengan nama Lompat Tali, Lompatan dll

2. Pemain

Pemain tali merdeka ini berjumlah 3--10 orang. Pemain dibagi dalam dua kelompok, yaitu pemegang karet dan pelompat karet. Pada umumnya permainan ini dilakukan oleh kaum perempuan yang masih berusia antara 7--15 tahun. Kaum perempuan yang telah berumur lebih dari 15 tahun biasanya akan segan untuk ikut bermain, karena takut auratnya akan terlihat sewaktu melompati tali karet. Kalau pun ada yang ikut bermain, biasanya hanya sebagai penggembira saja dan hanya melompat saat ketinggian tali masih sebatas lutut atau pinggang. Sedangkan kaum laki-laki hanya kadang kala saja ikut serta dalam permainan.

3. Tempat Permainan

Permainan ini tidak membutuhkan tempat yang luas. Oleh karena itu, dapat dimainkan di mana saja dan kapan saja, seperti: di halaman sekolah (pada waktu istirahat) dan di halaman rumah.

4. Peralatan Permainan

Peralatan yang digunakan dalam permainan ini adalah karet-karet gelang yang dianyam memanjang. Cara menganyamnya adalah dengan menyambungkan dua buah karet pada dua buah karet lainnya hingga memanjang dengan ukuran sekitar 3--4 meter. Karet-karet tersebut berbentuk bulat seperti gelang yang banyak terdapat di pasar-pasar tradisional. Karet tersebut tidak dijual perbuah, melainkan dalam bentuk satuan berat (gram, ons, dan kilo).

Fungsi karet pada umumnya adalah sebagai pengikat plastik-plastik pembungkus makanan, pengikat rambut dan barang-barang lainnya yang tidak membutuhkan pengikat yang kuat, karena karet akan mudah putus jika dipakai untuk mengikat terlalu kuat pada suatu benda. Oleh karena itu, sewaktu membuat anyaman untuk membentuk tali karet, diperlukan dua buah karet yang disambungkan dengan dua buah karet lain agar tidak lekas putus oleh anggota tubuh pemain yang sedang melompat. Ada kalanya tali-karet dianyam dengan menyambungkan 3--4 buah karet sekaligus, agar tali menjadi semakin kuat dan dapat dipakai berkali-kali.

5. Aturan Permainan

Permainan tali merdeka tergolong sederhana karena hanya melompati anyaman karet dengan ketinggian tertentu. Jika pemain dapat melompati tali-karet tersebut, maka ia akan tetap menjadi pelompat hingga merasa lelah dan berhenti bermain. Namun, apabila gagal sewaktu melompat, pemain tersebut harus menggantikan posisi pemegang tali hingga ada pemain lain yang juga gagal dan menggantikan posisinya.

Ada beberapa ukuran ketinggian tali karet yang harus dilompati, yaitu: (1) tali berada pada batas lutut pemegang tali; (2) tali berada sebatas (di) pinggang (sewaktu melompat pemain tidak boleh mengenai tali karet sebab jika mengenainya, maka ia akan menggantikan posisi pemegang tali; (3) posisi tali berada di dada pemegang tali (pada posisi yang dianggap cukup tinggi ini pemain boleh mengenai tali sewaktu melompat, asalkan lompatannya berada di atas tali dan tidak terjerat); (4) posisi tali sebatas telinga; (5) posisi tali sebatas kepala; (6) posisi tali satu jengkal dari kepala; (7) posisi tali dua jengkal dari kepala; dan (8) posisi tali seacungan atau hasta pemegang tali.

6. Proses Permainan

Sebelum permainan diadakan, terlebih dahulu akan dipilih dua orang pemain yang akan menjadi pemegang tali dengan jalan gambreng dan suit. Gambreng dilakukan dengan menumpuk telapak tangan masing-masing peserta yang berdiri dan membentuk sebuah lingkaran. Kemudian, secara serentak tangan-tangan tersebut akan diangkat dan diturunkan. Pada saat diturunkan, posisi tangan akan berbeda-beda (ada yang membuka telapak tangannya dan ada pula yang menutupnya).


Apabila yang terbanyak adalah posisi telapak terbuka, maka yang memperlihatkan punggung tangannya dinyatakan menang dan gambreng akan diulangi lagi hingga nantinya yang tersisa hanya tinggal dua orang peserta yang akan menjadi pemegang tali. Kedua orang tersebut nantinya akan melakukan suit, untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu akan menggantikan pemain yang gagal ketika melompat. Suit adalah adu ketangkasan menggunakan jari-jemari tangan, khususnya ibu jari, jari telunjuk dan jari kelingking. Ibu jari dilambangkan sebagai gajah, jari telunjuk sebagai manusia dan jari kelingking sebagai semut. Apabila ibu jari beradu dengan jari telunjuk, maka ibu jari akan menang, karena gajah akan menang jika bertarung dengan seorang manusia. Namun apabila ibu jari beradu dengan jari kelingking, maka ibu jari akan kalah, sebab semut dapat dengan mudah memasuki telinga gajah, sehingga gajah akan kalah. Sedangkan apabila jari kelingking beradu dengan jari telunjuk, maka jari kelingking akan kalah, sebab semut akan kalah dengan manusia yang mempunyai banyak akal.

Setelah semuanya siap, maka satu-persatu pemain akan melompati tali dengan berbagai macam tahap ketinggian yang telah disebutkan di atas. Pada ketinggian-ketinggian yang sebatas lutut dan pinggang, umumnya para pemain dapat melompatinya, walaupun pada ketinggian tersebut tali tidak boleh tersentuh tubuh pemain. Pada tahap ketinggian yang sebatas dada hingga satu jengkal di atas kepala, mulai ada pemain yang merasa kesulitan untuk melompatinya. Pergantian pemegang tali mulai banyak terjadi pada saat ketinggian tali sebatas hingga dua jengkal di atas kepala. Tahap yang paling sulit adalah ketika tali berada seacungan hasta pemegangnya. Pada tahap ketinggian seperti ini, pada umumnya hanya pemain-pemain yang memiliki postur tubuh yang tinggi dan atau sering bermain tali merdeka saja yang dapat melompatinya. Agar mempermudah lompatan, pemain juga boleh melakukan gerakan berputar menyamping, yang jika diamati akan nampak seperti perputaran baling-baling.

Gerakan berputar pada umumnya dilakukan oleh anak laki-laki. Selain berputar, pemain juga boleh memegang dan menurunkan tali terlebih dahulu sebelum melompat. Cara ini biasanya dilakukan oleh anak-anak perempuan. Pemain yang telah berhasil melompati tali yang setinggi acungan tangan, akan menunggu pemain lain selesai melompat. Dan, setelah seluruh pemain berhasil melompat, maka tali akan diturunkan kembali sebatas lutut. Begitu seterusnya, hingga pemain merasa lelah dan berhenti bermain.

7. Nilai Budaya

Permainan yang disebut sebagai tali merdeka ini mengandung nilai kerja keras, ketangkasan, kecermatan dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat pemain yang berusaha agar dapat melompati tali dengan berbagai macam ketinggian. Nilai ketangkasan dan kecermatan tercermin dari usaha pemain untuk memperkirakan antara tingginya tali dengan lompatan yang akan dilakukannya. Ketangkasan dan kecermatan dalam bermain hanya dapat dimiliki, apabila seseorang sering bermain dan atau berlatih melompati tali merdeka. Sedangkan nilai sportivitas tercermin dari sikap pemain yang tidak berbuat curang dan bersedia menggantikan pemegang tali jika melanggar peraturan yang telah ditetapkan dalam permainan.


Permainan Lu Lu Cina Buta (Riau)

Lu Lu Cina Buta adalah permainan rakyat yang masih selalu dimainkan oleh anak-anak kecil di Tembilahan, Indragiri Hilir. Permainan ini bagi masyarakat pendukungnya adalah semata-mata merupakan permainan penyalur kreativitas anak-anak untuk mengisi waktu senggang, permainan itu dimainkan sebagai hiburan pelepas lelah saja, terlepas dari ikatan suatu peristiwa sosial tertentu. Tidak pula menjadi tuntutan adat istiadat yang berlaku di daerah itu. Permainan ini selain dari mengasyikkan para pelakunya, dapat pula menghibur para penonton yang juga terdiri dari anak-anak di bawah umur.

Yang mengasyikkan para penonton menyaksikan permainan Lu Lu Cina Buta it, disebabkan para penonton bisa berkomunikasi dengan para pelakunya saat mereka sedang menyanyikan lagu permainan tersebut, ialah Lu Lu Cina Buta yang agak lucu dan mengetawakan.

1. Peralatan

Sapu tangan
Sehelai sapu tangan yang akan digunakan untuk menyimpal mata bagi yang menjadi Cina Buta.
Dalam permainan ini biasanya diiringi dengan lagu Lu Lu Cina Buta, dinyanyikan tanpa musik pengiring. Adapun bunyi lagu Lu Lu Cina Buta, seperti berikut:

Lu Lu Cina Buta
Lu banyak tai mata
Lu berjalan teraba-raba
Lala terantuk janda tua
Dalam nyanyian di atas, kata janda selalu ditukar-tukar menjadi Nyonya, Kuda, dsb.

2. Cara Bermain

  1. Dilakukan undi.Sebelum bermain dilakukan undian terlebih dahulu untuk mencari pelaku Cina Butanya, biasanya undian dilakukan dengan cara suit:
  2. Sut seorang lawan seorang, yang kalah terus sut lagi dengan yang berikutnya, berturut-turut hingga tinggal seorang yang kalah saja untuk menjadi Cina Buta.
  3. Sut dengan mempergunakan jari tangan: Kelingking menang lawan ibu jari kalah dari telunjuk; Telunjuk menang lawan kelingking, kalah lawan ibu jari; Ibu jari menang lawan telunjuk, kalah dari kelingking.
  4. Yang kalah menjadi Cina Buta, mukanya ditutup dengan sapu tangan. Kemudian berdiri di tengah-tengah para pemain dalam keadaan mata tersimpul.
  5. Yang menang beramai-ramai membuat lingkaran dengan cara berpegangan tangan membuat jalan keliling sambil melingkar.
  6. Sambil melingkar berkeliling, menyanyi bersama-sama lu lu Cina Buta
  7. Selesai menyanyi, pemain duduk mencangkung dalam posisi menghadap pusat lingkaran
  8. Setelah pemain selesai bernyanyi, Cina Buta berjalan meraba-raba para pemain, dan menerka nama si pemain tersebut.
  9. Bila terkaannya tepat, maka yang diterka itu menjadi Cina Buta, lalu permainan baru pula dimulai seperti (kembali ke no. 2 dan 3 di atas)
  10. Bila terkaannya meleset, maka ia terus menjadi Cina Buta, dan permainan diteruskan. Mulai seperti (kembali ke no. 2 dan 3 di atas)
  11. Permainan dilakukan terus menerus berulang kali, hingga kira-kira 30-45 menit bubar.

3. Peraturan permainan

  1. Semua pemain harus ikut bernyanyi, kecuali y menjadi Cina Buta. Yang tak mau ikut bernyanyi, maka ia dihukum menjadi Cina Buta. Maka berlakulah seperti (kembali ke cara bermain no. 2, 3 dan 4)
  2. Permainan tak boleh keluar lingkaran ataupun menghindari diri dari rabaan Cina Buta. Barang siapa melanggar peraturan tersebut, maka dihukum menjadi Cina Buta, dan berlaku pula seperti (kembali ke permainan no. 2, 3 dan 4).
  3. Cina Buta meraba-raba wajah, bahu, dan rambut pemain. Dilarang meraba-raba tempat lain terutama di bagian di bawah. Jika melanggar, perekaannya batal, dan kembali menjadi Cina Buta. Permainan diulang lagi seperti (kembali ke permainan no. 2, 3 dan 4).
  4. Pemain boleh mengatakan ‘up‘ bila ianya ada keperluan mendadak mau keluar, lingkaran, seperti akan pipis atau akan buang hajat, dan sebagainya.
  5. Bila sekiranya sampai 3 kali putar si Cina Buta gagal menebak, maka permainan diulang seluruhnya dari sut, kemudian main lagi.

4. Tempat Permainan

Tempat bermain Lu Lu Cina Buta adalah rumah, ataupun tanah lapang dengan ukuran: ± 6 x 5 depa.

5. Pemain

  • Jumlah pemain untuk permainan ini sekitar 10 s/d 30 orang
  • Usia pemain antara 7 s/d 10 tahun
  • Permainan ini bisa dilakukan baik oleh anak laki-laki dan perempuan, dan bisa dilakukan bersama.

6. Keahlian Khusus

Dalam permainan ini tidak begitu membutuhkan keahlian khusus, hanya membutuhkan feeling untuk menebak atau menerka lawan mainnya.

7. Nilai Budaya

Permainan Lu Lu Cina Buta diselenggarakan oleh anak-anak dari segala tingkat sosial masyarakat, dengan tidak membeda-bedakan apakah mereka anak orang kaya, ataukah anak orang miskin; anak turunan bangsawan atau anak orang kebanyakan semuanya dipandang sama saja. Mereka bermain dalam satu kesatuan hakekat. Yakni bermain bersama-sama untuk menghibur diri, dan bergembira bersama-sama pula.