Layang-layang Tradisional Muna dari Daun Kolope

Layang-layang tradisional daerah Muna atau yang dalam bahasa daerah setempat disebut kaghati merupakan jenis layang-layang yang menggunakan alat dan bahan yang bersifat tradisional demikian pula dengan cara pembuatannya. Jenis layang-layang ini merupakan warisan budaya leluhur daerah Muna yang menjadi salah satu kebanggaan budaya masyarakat setempat.

Pada zaman dahulu, masyarakat Muna meyakini bahwa layang-layang merupakan sarana penolong dan akan menaungi mereka dari sengatan sinar matahari di hari kemudian setelah mereka meninggal dunia. Saat ini, selain sebagai sarana olah raga dan rekreasi, layang-layang tetap diyakini memiliki nilai yang sakral terutama pada upacara-upacara setelah masa panen. Layang-layang biasanya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat yang dinaikkan sejak sore sampai pagi hari selama 7 hari 7 malam. Apabila layangan tersebut tidak lagi dapat diturunkan, maka dibuatlah suatu upacara untuk memutuskan tali layangan tersebut. Pada layangan tersebut digantungkan sesajen berupa ketupat dan makanan lainnya. Niat yang terkandung dalam upacara tersebut adalah bahwa seluruh halangan dan rintangan yang tidak baik (kesialan) terbawa bersama layang-layang yang telah diputuskan.

Pembuatan kaghati tidak mengikuti ukuran tertentu tergantung pada selera pembuatnya dan siapa yang akan memainkan layangan tersebut. Menurut bentuknya kaghati dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yang telah dikenal secara umum oleh masyarakat daerah Muna :

1. Bhangkura. Jenis ini berbentuk wajik dan merupakan jenis yang paling umum dibuat karena modelnya relatif sederhana. Panjang tiang vertical dan horizontal seimbang (sama). Pertengahan tiang horisontalnya diikat pada 1/5 bagian atas tiang vertical.
2. Bhalampotu (Mantobua). Jenis ini memiliki tiang vetikal (kainere) lebih pendek dari tiang horizontal. (pani). Pertengahan tiang horisontalnya diikat pada 2/5 bagian atas kainere.
3. Kasopa. Jenis ini bentuknya menyerupai Bhalampotu dimana tiang vertical lebih pendek dari tiang horizontal. Pertengahan tiang horizontal diikat pada kurang lebih 3/7 bagian atas tiang tiang vertical.
4. Wantafotu. Jenis ini memiliki ciri khas tiang vertical lebih pendek dari tiang horizontal dengan menggunakan perbandingan 1 : 1.2. Pertengahan tiang horizontal diikat pada kurang lebih 5/9 bagian atas tiang vertical.
5. Salabanga. Jenis ini bentuknya menyerupai wajik tetapi sisi-sisnya tidak terlalu berimbang seperti pada jenis bhangkura.
6. Sopi Fotu. Jenis ini memiliki bentuk yang lebih lancip pada sisi atasnya dibanding jenis bangkura dan salabanga. Keunggulan jenis ini adalah kecepatan melayang/terbang di udara sangat tinggi.

Bagian-bagian kaghati terdiri atas:
a. Kerangka utama :
1. Tiang vertikal (kainere). Tiang ini terletak di bagian tengah pada posisi vertical. 2. Tiang horizontal (pani). Tiang ini terikat dengan tiang vertical mengarah horizontal, 3.Tali bagian luar. Bagian ini terdiri atas 2 bagian yang bersisian, 4.Tali bagian dalam berbentuk jaring (kalolonda). Tali pada bagian dalam ukurannya lebih kecil dari tali bagian luar. Fungsi tali bagian dalam adalah untuk menahan/menopang daun ubi gadung dari terpaan angin, 5.Ikatan penyambung antara sisi-sisi tali bagian luar (bhanta)

b. Daun :
Daun yang digunakan adalah daun gadung atau ubi hutan (Discorea Hsipida.sp). Pada masing-masing dahan ubi hutan terdapat 3 helai daun yang terdiri atas 2 helai daun jenis feminine dan 1 helai daun jenis maskulin. Kedua helai daun jenis feminine berada pada sisi kanan dan kiri dengan serat daun mengarah horizontal sedangkan helai daun jenis maskulin berada di tengah (diantara kedua helai daun feminine) dengan serat daun mengarah vertikal. Adalah penting untuk bisa membedakan kedua jenis daun ini karena akan menentukan penempatan daun pada rangka layang-layang. Jenis daun maskulin akan ditempatkan pada bagian tengah layang-layang mengarah vertikal sedangkan jenis daun feminine akan ditempatkan pada sisi kiri dan kanan layang-layang mengarah horizontal.

c. Tali layang-layang (Ghurame) :
Tali layang-layang terbuat dari serat nenas hutan.

d. Instrumen pelengkap :
1. Penyeimbang (kaworu/kamuu). Selain berfungsi sebagai penyeimbang kaworu/kamuu juga berfungsi untuk menghasilkan bunyi pada saat terbangkan. Penyeimbang ini diletakkan di belakang rangka layang-layang. 2. Kasaa, yaitu seutas tali yang salah satu ujungnya diikat pada ujung bawah tiang vertical dan ujung lainnya diikat pada titik pertemuan/perpotongan tiang vertical dan horizontal.

Adapun alat dan bahan yang digunakan serta proses pembuatan bagian layang-layang dan proses perakitan layang-layang adalah sebagai berikut:

Alat :
1. Pisau
2. 2 buah belahan bambu

Bahan :
1. Tiang vertikal (kainere), yaitu 1 batang bambu buluh utuh (tidak dibelah)
2. Tiang horizontal (pani. Bambu biasa yang dihaluskan
3. Tali bagian luar.Serat daun nenas hutan (Agave.sp)
4. Tali bagian dalam atau jaring (kalolonda). Tali batang waru/bontu
5. Ikatan penyambung antara sisi tali bagian luar (bhanta).Tali batang waru atau serat daun nenas hutan
6. Daun. Daun ubi hutan (kolope) atau daun gadung (Discorea Hsipida.sp.Sayatan bambu halus/bambu buluh berdiameter  2 mm (kasoma).
7. Penyeimbang (kaworu/kamuu).Belahan bambu biasa.Daun agel
8. Kasaa. Serat daun nenas
9. Tali layang – layang (ghurame).Serat daun nenas hutan

Proses pembuatan bagian layang-layang :

a. Kerangka Utama :

1. Tiang vertikal (kainere).1 batang bambu buluh yang utuh dipotong sesuai tinggi yang diinginkan
2. Tiang horizontal (pani). Bambu biasa dibelah dan kemudian dihaluskan.
3. Tali bagian luar. Daun nenas hutan terlebih dahulu direndam di air selama 1 atau 2 hari sampai daging daun membusuk. Proses ini dimaksudkan agar serat daun terpisah dari daging daun dan untuk memperoleh serat yang lebih banyak.

Kemudian daun nenas dipukul-pukul untuk memisahkan serat daun dengan bagian daun lainnya.

Gunakan 2 buah belahan bambu yang masih menyatu pada salah satu ujungnya untuk menjepit daun nenas yang telah dipukul-pukul. Ujung belahan bambu yang lainnya dijepit secara manual. Belahan bambu tidak boleh bersisi tajam karena akan merusak serat nenas

Dalam keadaan terjepit tariklah daun nenas tersebut. Langkah ini dimaksudkan untuk memudahkan pencabutan serat pada daun.

Setelah serat daun diperoleh, serat tersebut kemudian dipintal secara manual sehingga membentuk tali.

4. Tali bagian dalam berbentuk jaring (kalolonda). Kulit pohon waru dipintal sehingga menghasilkan tali. Tali bagian dalam ini berukuran lebih kecil dari tali bagian luar.

5. Ikatan penyambung antara sisi-sisi tali bagian luar (bhanta)
- Ikatan penyambung yang digunakan adalah tali yang terbuat dari kulit pohon waru yang dipintal atau dari serat nenas.

b. Daun :
- Daun gadung/kolope dikeringkan terlebih dahulu. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu diasapi dan dikeringkan di panas matahari. Proses pengasapan akan menghasilkan kualitas warna daun yang lebih baik dibandingkan dengan mengeringkan di panas matahari. Untuk daun gadung yang telah kering secara alami dan telah gugur dari pohon dapat langsung diolah ke proses selanjutnya tanpa proses pengeringan terlebih dahulu.
- Setelah kering semua daun gadung tersebut dirapikan sampai permukaannya rata. Untuk mendapatkan daun yang rapi dan rata dapat menggunakan cara dimana semua daun disusun dalam satu tumpukan yang rapi kemudian pada bagian atas tumpukan daun diberi pemberat.
- Setelah itu daun gadung dipotong pada sisi-sisinya dengan menggunakan pisau sehingga membentuk segi empat dengan ukuran yang sama untuk semua daun.
- Daun yang telah dipotong membentuk segi empat dianyam satu dengan lainnya dengan menggunakan bambu buluh yang telah disayat halus (kasoma) dengan ukuran diameter  2 mm.

C. Tali layang-layang (ghurame)
Menggunakan tali layang-layang yang terbuat dari serat nenas hutan.
d. Instrumen pelengkap :
  • Penyeimbang (kaworu/kamuu)
  1. Bambu biasa dibelah dengan lebar yang sesuai sehingga dapat dilekukkan
  2. Daun agel dengan kualitas yang baik disiapkan.
  • Kasaa, yaitu seutas tali yang salah satu ujungnya diikat pada ujung bawah tiang vertical dan ujung lainnya diikat pada titik pertemuan/perpotongan tiang vertical dan horizontal

Proses perakitan layang-layang :

  1. Ikatkan tiang vertikal pada tiang horizontal dengan menggunakan tali batang waru atau serat nenas (bhanta).
  2. Ikatkan tali bagian luar pada setiap ujung tiang vertikal dan horizontal juga dengan menggunakan tali batang waru atau serat nenas sehingga terbentuk kerangka layang-layang berbentuk wajik.
  3. Anyam tali bagian dalam sehingga membentuk jaring.
  4. Buat penyeimbang (kaworu). Ikatkan bagian bambu biasa yang telah dibelah pada titik tengah pertemuan tiang vertikal dan horizontal. Kemudian dilekukkan belahan bambu tersebut dan ikatkan kedua ujungnya dengan ujung bentangan daun agel dengan menggunakan tebu hutan yang telah dilubangi (kabongke). Posisi penyeimbang ini adalah independent dimana hanya terikat pada titik tengah lekukan belahan bambu. Bagian lainnya terlepas bebas dari kerangka utama layang-layang.
  5. Anyaman daun gadung ditempelkan pada kerangka layang-layang dengan cara dianyam/disulam menggunakan bambu buluh yang telah disayat halus (kasoma).
  6. Ikatkan salah satu ujung tali pada bagian ujung bawah tiang vertical dan ikatkan ujung yang lainnya pada titik pertemuan tiang vertical dan horizontal (kasaa).
  7. Ikatkan salah satu ujung tali layang-layang (ghurame) pada kasaa dan biarkan ujung satunya bebas
Berikut adalah gambar kaghati lengkap dengan bagian-bagiannya dilihat dari tampakan belakang:

Keterangan :

1. Tiang vertikal (kainere)
2. Tiang horisontal (pani)
3. Tali bagian luar
4. Tali bagian dalam (kalolonda)
5. Ikatan penyambung antara sisi-sisi tali bagian luar(bhanta)
6. Daun gadung/kolope.
7. Instrumen penyeimbang(kamuu)
8. Kasaa.
9. Tali layang-layang
Catatan: daun kolope menutupi seluruh area rangka layang-layang kecuali tali paling luar.

0 komentar: