Permainan Jek- Jek Nong

Permainan jek-jek nong mungkin sebagian sahabat yang sekitar 8 tahun lalu berada di masa sd tahu tentang permainan ini, atau mungkin malah tidak tahu sama sekali??? permainan ini dulu sangan mudah untuk di temukan bahkan penulis sendiri masih menemui permainaqn ini pada waktu kecil. Untuk namanya permaian " jek - jek nong" ini sebutan untuk di pedesaan daerah yogyakarta dan sekitarnya.

Permainan Jek-Jek Nong ini memiliki kekhasan yang berbeda, permainan ini hanya untuk hiburan semata dan biasanya di mainkan pada sore hari.

peralatan yang di gunakan untuk permainan ini adalah :


Daun piring - piringan (kalo di daerah saya namanya dau piringngan mungkin di daerah sahabat namanya berbeda)


biji jagung (sekali pakai paling memakai satu persatu)


lidi (mengambil sedikit sekitar 5 cm panjangnya)


dan yang terahir Ayam (ya benar menggunakan ayam sebagai objeknya)

cara memainkan permainan ini

pertama daun piring-piringan yang sudah diambil di betuk kerucut, lidi di gunakan untuk mengaitkanya.




kemudian satu buah biji jagung di masukkan dalam lidi, yang panjang lidinya kurang lebih 3 - 5 cm.


biji jagung dan lidinya di pasang di dalam kerucut. setelah di pasang kemudian kerucut di letakkan di tanah dengan pososi miring sehingga jagungnya kelihatan. posisi meletakkan daun berbenruk kerucut ini pada lokasi yang ada ayamnya.


tujuanya agar ayam mematok jagung yang berada di tengah-tengah kerucut, karena jagung ada lidinya sehingga tidak bida ditelan. dan ujung kerucut menutupi mata si ayam. sehingga ayam akan lari-lari dengan mata tertutup. inilah keasyikanya...

biasanya ayam akan di kejar kejar oleh anak-anak(namanya juga anak-anak). permaian ini biasanya di mainkan anak kelas 1 - 3 sd.


Perlengkapan permainan tradisional

perlengkapan permaianan traduisional, berikut ini daftar berbagai alat yang di gunakan dalam permainan tradisional. sebenarnya ini baru sebagian kecil dari populasi permainan tradisional yang ada di indonesia

Engkle / Sondah Kapur untuk membuat kotak-kotak pada jalan, atau tali rafia jika bermain di rumput.
Lu Lu Cina Buta (Riau) Sapu Tangan untuk menutup mata si Cina buta
Aklobang (Sulawesi Selatan)

Lubang yang berdiameter sekitar 7 cm dan berkedalaman 5 cm.
Beberapa buah kemiri (jumlahnya tergantung kesepakatan pemain),
Papan penampang (pangampang) yang berukuran panjang sekitar 70 cm dan lebar 5 cm sebagai garis batas jatuhnya batu pengambak

Isutan Jarat (Kalimantan Selatan) Isutan jarat adalah nama permainan tradisional yang berkembang di daerah Kalimantan Selatan. Isutan mungkin peralihan dari kata ‘usutan’ yang berarti ‘mencari’. Sedangkan, jarat adalah istilah yang digunakan oleh Orang Banjar untuk menyebut tali yang ujungnya bersimpul sebagai penjebak atau pengikat (tali lasso di Amerika). Jadi, permainan isutan jarat intinya adalah mencari tali yang bajarat (memiliki jerat). Dalam hal ini setiap pemain berusaha untuk mencari jarat yang disembunyikan di dalam pasir oleh lawan mainnya. Caranya dengan menusukkan sebilah lidi/kayu/bambu ke dalam pasir yang diperkirakan ada jarat-nya.
Egrang Bambu, yang dibuat menyerupai tangga, tetapi tangganya hanya satu
Appalanta Ban bekas dan kayu sebagai penopang
Cangke' 2 buah kayu dengan panjang berbeda
Congklak Papan congklak, cangkang kerang/ biji-bijian

berbagai alat ini akan di update secara bekala...

Permainan Tradisional Maluku Utara

ini merupakan kumpulan sebagian kecil dari permainan tradisional maluku utara. jika sahabat ingin menambahkan atau mengoareksi bisa menghubungi penulis.

GOLE-GOLE


Gole-gole berarti kelincahan tendangan silat tempurung dengan belakang kaki. Golegole ini permainan tradisional yang di mainkan oleh remaja muda-mudi. Biasanya permainan ini di adakan, apabila ada sesuatu acara yang menghendaki bantuan muda-mudi untuk menolong mengukur (memarut) kelapa dalam jumlah banyak. Seusai membantu mengukur kelapa, terdapat banyak tempurung (batok kelapa). Oleh muda-mudi ini, tempurung itu di gunakan untuk memainkan gole-gole. Cara bermain: Gole-gole di mainkan oleh dua kelompok, masing-masing lima orang. Untuk mencari kelompok yang akan memulai permainan itu, di adakan suten (pengundian dengan unjuk jari) oleh kapten dari dua kelompok. Kelompok yang menang suten itulah yang memulai permainan. Di depan ke lima pemain itu, berjarak 7 m, tertumpuk 5 tempurung dengan jarak samping tempurung 2 m. Masing-masing pemain menghadapi tumpukan tempurungnya dan dia harus menembak tempurungnya ke tumpukan di depannya dengan tendangan silat belakang kakinya. Di haruskan ke limanya menembakkan tempurungnya. Bila kena pada sasaran, maka di hitung 5 punt (angka) dan mereka harus melanjutkan permainannya pada babak ke dua. Apabila hanya 1 orang saja yang pada waktu menembakkan tempurungnya kena, maka hanya di hitung 1 punt dan kesempatan waktu di berikan pada kelompok ke 2. Jika babak pertama tadi telah dapat di selesaikan oleh salah satu kelompok, mereka akan melanjutkan permainan ke babak ke 2, yaitu kelima pemain tadi menghadapi salah satu tumpukan tempurung yang di tengah berarak 2 meter. Di atas tumpukan tempurung tersebut di letakkan sesuatu yang harus di jatuhkan oleh salah satu pemain. Jika babak ini dapat di selesaikan dengan baik, permainan berlanjut pada babak ke 3. Kelima pemain yang telah menyelesaikan kedua babak tadi berhadapan dengan kelima pemain lawannya, yaitu dengan mengetuk tumpukan tempurung tersebut sambil lari menembus garis hadangan lawannya, dengan tidak sedikit pun salah satu dari anggota badannya tersentuh lawan. Apabila tubuh mereka dapat di sentuh (tek) oleh lawannya, maka di nyatakan bou. Bou ini dapat di tembus jika kawannya yang tidak tersentuh oleh lawannya kembali pada babak pertama tadi dengan menendangkan tembakan tempurungnya pada tumpukan tempurung dan kena, maka tertembuslah bou kawannya dan puntnya tidak di hitung.
• Babak pertama mencari 5 punt
• Babak kedua mencari 1 punt
• Babak ketiga mencari 5 punt
Kelompok yang di anggap menang ialah mereka yang mengumpulkan puntnya pada babak pertama tidak mengulang atau terhitung pada sedikit atau banyak pengulangan. Begitu juga pada babak kedua, berapa orang yang tembakannya tepat. Pada babak ketiga, semua lolos dari bou atau berapa bou. Dari ketiga babak itu, di tambahkan angka puntnya menurut waktu dan kesempatan. Syarat ini di tetapkan sebelum pertandingan oleh juri.

DODENGO


Dodengo adalah pertarungan satu lawan satu. Permainan dodengo mirip dengan tarian perang (cakalele), biasanya permainan ini di adakan pada waktu selesai shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Dodengo merupakan pra-pelatihan untuk melatih dan menguji ketangkasan dan kelincahan seseorang. Umumnya permainan ini hanya di mainkan oleh laki-laki. Alat yang di gunakan yaitu perisai (salawaku) dan sepotong gaba yang panjangnya 50 cm. Kedua alat tersebut berfungsi sebagai alat penangkis dan pemukul. Selain itu, pertandingan dodengo di iringi dengan bunyi-bunyian tifa dan gong. Cara bermainnya yaitu satu orang pemain berhadapan dengan satu pemain lainnya dan masing-masing saling memperlihatkan kelincahan dan ketangkasannya dalam menjatuhkan lawannya dengan cara memasukan pukulan gabanya ke kepala atau pundak lawan. Satu kali permainan kurang dari 10 menit sedangkan untuk perhitungan angka kemenangan, pemain di saring dengan putaran bertarung dengan cara menghitung angka yang teranyak di juarakan.


DODORABE

Dodorabe berarti tembak-menembak, biasanya di mainkan oleh anak-anak dan remaja. Permainan ini di laksanakan hanya pada saat musim jambu air karena jambu yang masih kecil itulah yang menjadi peluru senjata dodorabe tersebut. Alat yang di gunakan terbuat dari ruas bambu yang lubang dalamnya maksimal garis tengah 1 cm. Pangkal ruasnya yang berbuku di pakai sebagai gagang bilah pendorong peluru.

Cara bermain: Pemain dodorabe terdiri atas dua kelompok, masing-masing lima orang. Keduanya berhadapan dengan jarak 2 m dan jarak ke belakang dari kelompok tersebut 3 m sebagai garis penalti (garis mati). Apabila salah satu anggota kelompok ketika di serang lawan mundur melewati garis mati, maka ia di nyatakan gugur (tidak lagi turut bermain), tinggal anggota yang tersisa yang melanjutkan permainan sampai di nyatakan juri selesai. Kelompok penyerang tidak di perkenankan memasuki garis mati. Kalau demikian, ia di beri peringatan, dengan cara di berikan kartu kuning. Kelompok di nyatakan menang apabila ia tidak mundur sampai ke garis mati atau sisa kawannya masih lebih banyak ketika juri mengisyaratkan waktu bermain telah habis.

BARAMASUEN

Baramasuen adalah permainan yang di mainkan oleh minimal 5 orang dan maksimal sepanjang bambu yang di gunakan, selain itu juga terdapat seorang yang menjadi pawang dalam permainan ini yakni pawang. Pawang inilah yang nantinya mengerahkan dan mengendalikan serta membuat permainan ini menjadi seru karena memiliki kekuatan jampi-jampi untuk membuat sebuah bambu menjadi gila maka seluruh peserta dalam permainan ini harus melawan atau menenangkan bambu ini. Cara bermain: Untuk melaksanakan permainan ini peserta di haruskan memegang bambu yang sudah di sediakan dengan kedua tangannya yang emudian di letakkan di depan dada (seperti memeluk bambu dengan kedua tangan). Kemudian pawang akan mulai membacakan lampi-jampinya untuk membuat bambu menjadi gila. Saat bambu mulai menggila, peserta harus segera bersiap melawan arah gerak bambu ini dan harus mendengar intruksi dari dari pawang misalnya pawang menatakan kekiri maka harus di arahkan ke kanan bambunya dan sebaliknya.


SEM

Permainan ini di mainkan oleh 2 kelompok yang terdiri lebih dari 4 orang tergantung dari panjangnya garis yang di sepakati. Peraturan permainannya adalah orang yang menjaga pertahanan tepat di empat garis yang berlainan arah dan merentangkan tangan mencoba menyentuh lawannya untuk mengurung lawan tersebut di dalam garis untuk memenangkan pertandingan sampai setiap anngota lawan terkumpul di dalam garis yang berbentuk empat garis. Dan hal itu terjadi berulang-ulang untuk berusaha memenangkan permainan. Permainan ini biasa di mainkan pada bulan suci Rhamadhan setelah selesai makan sahur.

di ambil dari berbagai sumber.

Permainan Tradisional Sumatera Utara

sahabat, berikut ini adalah berbagai permainan tradisional yang berasal dari sumatera utara, sebenarnya ini baru sebagian kecil dari semua permainan tradisional yang ada di sumatera utara. karena keterbatasan sumber baru ini yang dapat saya persembahkan. berikut permainan - permainan tradisional tersebut :

Taratintin
Taratintin adalah permainan dengan banyak orang. Seorang “terhukum” diposisikan untuk menghitung dari 10-100 dengan kelipatan 10 (sambil tutup mata dan kepala bersandar ke pohon atau kalau tidak ada pake dinding rumah) lalu peserta lain akan bersembunyi.

Gala Hambek
Gala Hambek adalah permainan 3 lawan 3, dengan membuat semacam garis-garis menyerupai kotak di tanah.

Iye-Iye
Iye-iye adalah permainan khusus para perempuan. Iye-iye merupakan permainan loncat gelang karet, tapi tidak jarang ada para anak laki-laki yang coba menantang kehebatan para perempuan ini dalam hal loncat terutama itu waktu karet direntangkan di atas kepala.

Tokok Lele
Permainan perorangan dengan alat bantu berupa 2 buah batangan kayu bulat kecil, yang satu (pemukul) seukuran 30cm dan umpannya seukuran 15cm. Lalu si umpan (lele) diletakkan di ujung lobang kecil memanjang (posisinya menjungkit). Ujung umpan di “tokok” pakai pemukul sehingga melenting ke udara setelah terlebih dahulu membentur tanah. Ada beberapa variasi pukulan untuk mendapat nilai lebih.

Untuk langkah 1, nilainya adalah 5. Kayu 15cm diletakkan melintang di cekungan tanah, pemain seperti mendongkrak harus melentingkan tongkat melewati garis yang ditentukan dengan tongkat yang lebih panjang lagi (30 cm). Jika tidak tertangkap lawan, maka akan berlanjut ke level berikutnya. Jika tertangkap lawan dengan kedua tangan, maka orang itu harus diganti dengan yang lain masih dengan tim sama.

di level 2, individu akan berdiri di bagian garis dalam, dengan tangan kanan memegang kedua tongkat itu, harus berhasil memukul tongkat kecil semakin jauh. Jika gagal maka pemain harus diganti lagi dengan tim yang sama dari awal lagi. Jika tongkat berhasil dipukul dan tidak tertangkap, poinnya adalah 5. Namun jika lawan berhasil menangkap dengan tangan kanan, lawan mendapat tambahan poin 5, jika dengan tangan kiri poin 10, jika kaki kanan 15, kaki kiri 20. Jika lawan tidak dapat menangkap tongkat maka permainan akan menuju level 3.

Piccek Baju
permainan perorangan. Garis kotak di tanah menyerupai model pakaian. Peserta meloncat-loncat dengan satu kaki. Untuk mengambil piccek pun dilarang pakai anggota tubuh lain selain telapak tangan (tidak boleh bertumpu ke lengan). Umumnya permainan perempuan, tapi banyak juga laki-laki berminat.

Kalereng
Permainan ini cukup umum di Indonesia.
Namun ada yang unik di Sibolga, karena cara memainkannya adalah dengan melentingkan kelereng ke sasaran yang hanya pakai satu tangan.

berbagai permainan tradisional ditas sebenarnya sama dengan permainan tradisional di daerah lain, yang membedakan hanya nama dan variasi dalam permainan tradisional tersebut. diambil dari berbagai sumber.

Permainan Cungkup Milang Kondhe

Berikut ini satu lagi permainan tradisonal yang berasal dari daerah yogyakarta dan sekitarnya, merupakan permaian yang di lakukan secara berkelompok.

Dolanan Cungkup Milang Kondhe adalah salah satu jenis permainan tradisional yang juga pernah dikenal dan dimainkan oleh anak-anak masyarakat Jawa, terutama dari gender perempuan. Dilihat dari namanya, jelas mengindikasikan dari bahasa Jawa baik dari kata cungkup, milang, dan kondhe. Walaupun setelah kata itu dirangkai, sulit untuk memberi makna, kecuali nama dari sebuah permainan itu sendiri. Namun ketiga kata itu dalam kamus bahasa Jawa masing-masing kurang lebih bermakna ‘rumah nisan’, ‘menghitung’, dan ‘gelung rambut pasangan untuk kaum wanita’. Jadi, cukup sulit untuk memaknai jenis dolanan itu dengan namanya. Hanya saja, bisa dihubungkan-hubungkan dari bentuk permainan yang berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari atas, bentuk lingkaran itu seperti bentuk kondhe. Itulah sebabnya, mungkin dolanan ini oleh anak-anak mendapat sebutan Cungkup Milang Kondhe.

Menurut Ahmad Yunus (1980/1981), dolanan ini merata dikenal oleh anak-anak masyarakat Jawa di berbagai wilayah di Yogyakarta, setidaknya sekitar tahun 1940-an. Bagi nenek-nenek masyarakat Jawa yang kelahiran tahun tersebut tentu masih ingat dengan jenis dolanan ini. Sayangnya, anak-anak sekarang sudah tidak banyak mengenal jenis permainan itu.

Seperti dolanan lainnya, dolanan ini juga hanya bersifat menghibur belaka di samping untuk melatih keberanian anak untuk saling bersosialisasi di antara sesama saat bergaul di lingkungan kampung atau desa. Maka tidak heran, dolanan seperti ini sangat disenangi dan dimainkan oleh anak-anak, apalagi mudah dimainkan dan tidak perlu ribet memerlukan peralatan yang sulit diperoleh. Alat yang digunakan untuk bermain Cungkup Milang Kondhe hanyalah sebatas sebuah saputangan (bahasa Jawa: kacu) dan sebuah kerikil saja. Jika tidak ada saputangan bisa digantikan jenis kain lain yang fungsinya bisa untuk menutup mata. Selain itu, permainan ini juga hanya memerlukan tempat yang agak lapang sebagai tempat bermain. Sebisa mungkin, tempat bermain rata, bersih, rindang, dan nyaman.

Memang, dolanan ini lebih banyak dimainkan oleh anak perempuan daripada anak laki-laki. Namun jika ada anak laki-laki yang ikut juga diperbolehkan. Apalagi di zaman dulu, seringkali anak perempuan mengasuh adik laki-lakinya sambil diajak bermain. Usia anak-anak yang bermain dolanan ini sekitar 7 – 14 tahun, biasanya seusia anak SD. Mereka bermain berkelompok, artinya dolanan ini, minimal dimainkan oleh 5—14 anak. Anak perempuan yang paling besar, biasanya berposisi sebagai embok (induk).

Waktu bermain, seperti juga dolanan tradisional lain di zaman dulu, umumnya dimainkan waktu senggang dan waktu yang paling afdol adalah malam hari di bulan purnama, setelah matahari terbenam (Maghrib) hingga sekitar jam 20.00 WIB. Saat itulah anak-anak melepas kepenatan setelah seharian sekolah atau membantu pekerjaan orang tua di rumah, ladang, atau sawah. Zaman dulu, anak-anak setelah jam 8 malam, biasanya sudah tidur, atau yang sering disebut sirep lare. Perlu mafhum, zaman dulu tidak ada hiburan, seperti televisi dan sejenisnya.

Mereka yang bermain dolanan ini juga tidak dibeda-bedakan menurut status atau strata sosial. Jadi sifatnya umum, campur antara bangsawan, petani (rakyat jelata), atau masyarakat lainnya. Selain itu, dolanan ini tidak ada kaitannya dengan kegiatan ritual atau keagamaan. Sifatnya hanya permainan bebas untuk bergembira dan bersosialisasi.

Permainan ini dimainkan cukup mudah serta diiringi sebuah lagu “Cungkup Milang Kondhe” yang syairnya sebagai berikut: //Cungkup, cungkup milang kondhe/ milang arum, arum simbar latar/ tak cungkup maesa, jejagane paturone/ lera-lere ketemu kene//.

Apabila anak-anak sudah berkumpul untuk bermain Cungkup Milang Kondhe, misalkan ada 10 anak (A,B,C,D,E,F,G,H,I, dan J), maka mereka segera menentukan salah seorang di antaranya yang dijadikan si embok. Misalkan anak yang terbesar adalah pemain J. Setelah ia terpilih embok, tugasnya adalah memegang kerikil yang akan diberikan kepada pemain mentas. Selain pemain J, maka semua pemain lain melakukan hompimpah dan sut. Pemain terkalah menjadi pemain dadi, misalkan pemain A.

Langkah selanjutnya pemain B sampai I membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan. Sementara pemain dadi berada di dalam lingkaran dengan mata tertutup saputangan atau kain. Pemain J berada di luar lingkaran. Selanjutnya, para pemain mentas dan embok bernyanyi “Cungkup Milang Kondhe” secara bersama-sama. Sambil bernyanyi, para pemain mentas berputar ke arah berlawanan jarum jam (ke kiri). Sementara pemain J ikut berputar, namun arahnya sama dengan arah jarum jam. Bisa juga kebalikannya. Sebelum nyanyian berhenti, pemain J harus sudah meletakkan kerikil yang dibawanya pindah ke tangan seorang pemain mentas, misalkan pemain D.

Setelah lagu selesai dinyanyikan, maka semua pemain mentas, termasuk si embok berhenti berputar. Posisi tangan semua pemain mentas menggenggam. Sementara itu, pemain A juga segera membuka saputangan atau kain penutup mata. Ia mulai menebak pembawa kerikil. Jika ia tepat menebak, maka pemain yang ditebak harus menggantikan posisinya. Namun, jika tidak tertebak maka ia menjadi pemain dadi lagi. Jika tidak tertebak, maka dimulai lagi dengan menyanyikan lagu Cungkup Milang Kondhe. Demikian seterusnya hingga sebagian besar atau semua pemain merasa lelah dan bosan. Permainan akan semakin seru, jika ada anak yang dikungkung (menjadi pemain dadi secara terus-menerus). Kalau ia tidak kuat ejekan dan tertawaan dari teman-teman lainnya, biasanya terus menangis. Untuk itu, dolanan ini juga melatih bandel.

Sumber: Permainan Rakyat DIY, Ahmad Yunus, 1980/1981, Jakarta, Departemen P & K

Galery Layang Daun Kolope


Sang Legenda KAGHATI



Layang-layang Kaghati telah terbang tinggi mengangkasa, tak seorangpun mampu menurunkanya....Dia terbang bagai memiliki roh, dia berlenggok bagai seorang gadis cantik menari-nari diantara pengagum-pengagum keindahan. Kaghati menjadi primadona pada Festival Layang-layang Internasioanl di Raha Kabupaten Muna juli 2008.

Perahu Terbang

Seorang peserta Festival Layang-layang Internasioanl sedang mendemonstrasikan "Perahu Terbang" nya. Ternyata masyarakat Muna bukan saja membuat layangan dari Daun Kolope untuk Kaghati, tapi ada juga yang membuat layangan dari bahan baku kertas uang yakni pelepa pisang abaca (musa textilis nee). Pisang Abaca tumbuh subur di Kabupaten Muna.

Layang-layang-Kaghati

Mr. Jhon Gordon dan istri peserta Festival Layang-layang Internasional dari Australia sedang memperhatikan keunikan Kaghati yang terbuat dari daun gadung( discorea hyspida ) masyarakat Muna menyebutnya kolope. Selain bahan kolope sebagai pengganti kertas, Kaghati menggunakan rangka dari bambu.



Layang-layang Tradisional Muna dari Daun Kolope

Layang-layang tradisional daerah Muna atau yang dalam bahasa daerah setempat disebut kaghati merupakan jenis layang-layang yang menggunakan alat dan bahan yang bersifat tradisional demikian pula dengan cara pembuatannya. Jenis layang-layang ini merupakan warisan budaya leluhur daerah Muna yang menjadi salah satu kebanggaan budaya masyarakat setempat.

Pada zaman dahulu, masyarakat Muna meyakini bahwa layang-layang merupakan sarana penolong dan akan menaungi mereka dari sengatan sinar matahari di hari kemudian setelah mereka meninggal dunia. Saat ini, selain sebagai sarana olah raga dan rekreasi, layang-layang tetap diyakini memiliki nilai yang sakral terutama pada upacara-upacara setelah masa panen. Layang-layang biasanya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat yang dinaikkan sejak sore sampai pagi hari selama 7 hari 7 malam. Apabila layangan tersebut tidak lagi dapat diturunkan, maka dibuatlah suatu upacara untuk memutuskan tali layangan tersebut. Pada layangan tersebut digantungkan sesajen berupa ketupat dan makanan lainnya. Niat yang terkandung dalam upacara tersebut adalah bahwa seluruh halangan dan rintangan yang tidak baik (kesialan) terbawa bersama layang-layang yang telah diputuskan.

Pembuatan kaghati tidak mengikuti ukuran tertentu tergantung pada selera pembuatnya dan siapa yang akan memainkan layangan tersebut. Menurut bentuknya kaghati dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yang telah dikenal secara umum oleh masyarakat daerah Muna :

1. Bhangkura. Jenis ini berbentuk wajik dan merupakan jenis yang paling umum dibuat karena modelnya relatif sederhana. Panjang tiang vertical dan horizontal seimbang (sama). Pertengahan tiang horisontalnya diikat pada 1/5 bagian atas tiang vertical.
2. Bhalampotu (Mantobua). Jenis ini memiliki tiang vetikal (kainere) lebih pendek dari tiang horizontal. (pani). Pertengahan tiang horisontalnya diikat pada 2/5 bagian atas kainere.
3. Kasopa. Jenis ini bentuknya menyerupai Bhalampotu dimana tiang vertical lebih pendek dari tiang horizontal. Pertengahan tiang horizontal diikat pada kurang lebih 3/7 bagian atas tiang tiang vertical.
4. Wantafotu. Jenis ini memiliki ciri khas tiang vertical lebih pendek dari tiang horizontal dengan menggunakan perbandingan 1 : 1.2. Pertengahan tiang horizontal diikat pada kurang lebih 5/9 bagian atas tiang vertical.
5. Salabanga. Jenis ini bentuknya menyerupai wajik tetapi sisi-sisnya tidak terlalu berimbang seperti pada jenis bhangkura.
6. Sopi Fotu. Jenis ini memiliki bentuk yang lebih lancip pada sisi atasnya dibanding jenis bangkura dan salabanga. Keunggulan jenis ini adalah kecepatan melayang/terbang di udara sangat tinggi.

Bagian-bagian kaghati terdiri atas:
a. Kerangka utama :
1. Tiang vertikal (kainere). Tiang ini terletak di bagian tengah pada posisi vertical. 2. Tiang horizontal (pani). Tiang ini terikat dengan tiang vertical mengarah horizontal, 3.Tali bagian luar. Bagian ini terdiri atas 2 bagian yang bersisian, 4.Tali bagian dalam berbentuk jaring (kalolonda). Tali pada bagian dalam ukurannya lebih kecil dari tali bagian luar. Fungsi tali bagian dalam adalah untuk menahan/menopang daun ubi gadung dari terpaan angin, 5.Ikatan penyambung antara sisi-sisi tali bagian luar (bhanta)

b. Daun :
Daun yang digunakan adalah daun gadung atau ubi hutan (Discorea Hsipida.sp). Pada masing-masing dahan ubi hutan terdapat 3 helai daun yang terdiri atas 2 helai daun jenis feminine dan 1 helai daun jenis maskulin. Kedua helai daun jenis feminine berada pada sisi kanan dan kiri dengan serat daun mengarah horizontal sedangkan helai daun jenis maskulin berada di tengah (diantara kedua helai daun feminine) dengan serat daun mengarah vertikal. Adalah penting untuk bisa membedakan kedua jenis daun ini karena akan menentukan penempatan daun pada rangka layang-layang. Jenis daun maskulin akan ditempatkan pada bagian tengah layang-layang mengarah vertikal sedangkan jenis daun feminine akan ditempatkan pada sisi kiri dan kanan layang-layang mengarah horizontal.

c. Tali layang-layang (Ghurame) :
Tali layang-layang terbuat dari serat nenas hutan.

d. Instrumen pelengkap :
1. Penyeimbang (kaworu/kamuu). Selain berfungsi sebagai penyeimbang kaworu/kamuu juga berfungsi untuk menghasilkan bunyi pada saat terbangkan. Penyeimbang ini diletakkan di belakang rangka layang-layang. 2. Kasaa, yaitu seutas tali yang salah satu ujungnya diikat pada ujung bawah tiang vertical dan ujung lainnya diikat pada titik pertemuan/perpotongan tiang vertical dan horizontal.

Adapun alat dan bahan yang digunakan serta proses pembuatan bagian layang-layang dan proses perakitan layang-layang adalah sebagai berikut:

Alat :
1. Pisau
2. 2 buah belahan bambu

Bahan :
1. Tiang vertikal (kainere), yaitu 1 batang bambu buluh utuh (tidak dibelah)
2. Tiang horizontal (pani. Bambu biasa yang dihaluskan
3. Tali bagian luar.Serat daun nenas hutan (Agave.sp)
4. Tali bagian dalam atau jaring (kalolonda). Tali batang waru/bontu
5. Ikatan penyambung antara sisi tali bagian luar (bhanta).Tali batang waru atau serat daun nenas hutan
6. Daun. Daun ubi hutan (kolope) atau daun gadung (Discorea Hsipida.sp.Sayatan bambu halus/bambu buluh berdiameter  2 mm (kasoma).
7. Penyeimbang (kaworu/kamuu).Belahan bambu biasa.Daun agel
8. Kasaa. Serat daun nenas
9. Tali layang – layang (ghurame).Serat daun nenas hutan

Proses pembuatan bagian layang-layang :

a. Kerangka Utama :

1. Tiang vertikal (kainere).1 batang bambu buluh yang utuh dipotong sesuai tinggi yang diinginkan
2. Tiang horizontal (pani). Bambu biasa dibelah dan kemudian dihaluskan.
3. Tali bagian luar. Daun nenas hutan terlebih dahulu direndam di air selama 1 atau 2 hari sampai daging daun membusuk. Proses ini dimaksudkan agar serat daun terpisah dari daging daun dan untuk memperoleh serat yang lebih banyak.

Kemudian daun nenas dipukul-pukul untuk memisahkan serat daun dengan bagian daun lainnya.

Gunakan 2 buah belahan bambu yang masih menyatu pada salah satu ujungnya untuk menjepit daun nenas yang telah dipukul-pukul. Ujung belahan bambu yang lainnya dijepit secara manual. Belahan bambu tidak boleh bersisi tajam karena akan merusak serat nenas

Dalam keadaan terjepit tariklah daun nenas tersebut. Langkah ini dimaksudkan untuk memudahkan pencabutan serat pada daun.

Setelah serat daun diperoleh, serat tersebut kemudian dipintal secara manual sehingga membentuk tali.

4. Tali bagian dalam berbentuk jaring (kalolonda). Kulit pohon waru dipintal sehingga menghasilkan tali. Tali bagian dalam ini berukuran lebih kecil dari tali bagian luar.

5. Ikatan penyambung antara sisi-sisi tali bagian luar (bhanta)
- Ikatan penyambung yang digunakan adalah tali yang terbuat dari kulit pohon waru yang dipintal atau dari serat nenas.

b. Daun :
- Daun gadung/kolope dikeringkan terlebih dahulu. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu diasapi dan dikeringkan di panas matahari. Proses pengasapan akan menghasilkan kualitas warna daun yang lebih baik dibandingkan dengan mengeringkan di panas matahari. Untuk daun gadung yang telah kering secara alami dan telah gugur dari pohon dapat langsung diolah ke proses selanjutnya tanpa proses pengeringan terlebih dahulu.
- Setelah kering semua daun gadung tersebut dirapikan sampai permukaannya rata. Untuk mendapatkan daun yang rapi dan rata dapat menggunakan cara dimana semua daun disusun dalam satu tumpukan yang rapi kemudian pada bagian atas tumpukan daun diberi pemberat.
- Setelah itu daun gadung dipotong pada sisi-sisinya dengan menggunakan pisau sehingga membentuk segi empat dengan ukuran yang sama untuk semua daun.
- Daun yang telah dipotong membentuk segi empat dianyam satu dengan lainnya dengan menggunakan bambu buluh yang telah disayat halus (kasoma) dengan ukuran diameter  2 mm.

C. Tali layang-layang (ghurame)
Menggunakan tali layang-layang yang terbuat dari serat nenas hutan.
d. Instrumen pelengkap :
  • Penyeimbang (kaworu/kamuu)
  1. Bambu biasa dibelah dengan lebar yang sesuai sehingga dapat dilekukkan
  2. Daun agel dengan kualitas yang baik disiapkan.
  • Kasaa, yaitu seutas tali yang salah satu ujungnya diikat pada ujung bawah tiang vertical dan ujung lainnya diikat pada titik pertemuan/perpotongan tiang vertical dan horizontal

Proses perakitan layang-layang :

  1. Ikatkan tiang vertikal pada tiang horizontal dengan menggunakan tali batang waru atau serat nenas (bhanta).
  2. Ikatkan tali bagian luar pada setiap ujung tiang vertikal dan horizontal juga dengan menggunakan tali batang waru atau serat nenas sehingga terbentuk kerangka layang-layang berbentuk wajik.
  3. Anyam tali bagian dalam sehingga membentuk jaring.
  4. Buat penyeimbang (kaworu). Ikatkan bagian bambu biasa yang telah dibelah pada titik tengah pertemuan tiang vertikal dan horizontal. Kemudian dilekukkan belahan bambu tersebut dan ikatkan kedua ujungnya dengan ujung bentangan daun agel dengan menggunakan tebu hutan yang telah dilubangi (kabongke). Posisi penyeimbang ini adalah independent dimana hanya terikat pada titik tengah lekukan belahan bambu. Bagian lainnya terlepas bebas dari kerangka utama layang-layang.
  5. Anyaman daun gadung ditempelkan pada kerangka layang-layang dengan cara dianyam/disulam menggunakan bambu buluh yang telah disayat halus (kasoma).
  6. Ikatkan salah satu ujung tali pada bagian ujung bawah tiang vertical dan ikatkan ujung yang lainnya pada titik pertemuan tiang vertical dan horizontal (kasaa).
  7. Ikatkan salah satu ujung tali layang-layang (ghurame) pada kasaa dan biarkan ujung satunya bebas
Berikut adalah gambar kaghati lengkap dengan bagian-bagiannya dilihat dari tampakan belakang:

Keterangan :

1. Tiang vertikal (kainere)
2. Tiang horisontal (pani)
3. Tali bagian luar
4. Tali bagian dalam (kalolonda)
5. Ikatan penyambung antara sisi-sisi tali bagian luar(bhanta)
6. Daun gadung/kolope.
7. Instrumen penyeimbang(kamuu)
8. Kasaa.
9. Tali layang-layang
Catatan: daun kolope menutupi seluruh area rangka layang-layang kecuali tali paling luar.

layang-layang daun kolope

Bagaimanapun orang Muna masa kini menafikkan Kolope, tapi sejarah membuktikan Kolope tidak dapat dipisahkan dengan budaya masa lalu orang muna.

Kalaupun buahnya tidak diakui sebagai makanan tradisional, namun daunnya melanglang dunia membawa harum kabupaten Muna berkibar di angkasa Internasional. Layang-layang daun Kolope berulang kali menjuarai Festival layang-layang internasional.

Dan karena daun Kolope itu juga, berbagai negara di dunia sudi datang ke muna untuk festival layang-layang internasional. Seperti kulitnya mengolah buah Kolope hingga sampai di meja makan, mengolah daun Kolope menjadi kertas layang-layang juga tidak mudah.

Kolope merekahkan daunnya sekitar bulan Mei, persis ketika iklim menandai musim penghujan tiba. Daun baru itu terlalu muda untuk diolah menjadi kertas layang-layang nanti sekitar bulan juli, daun Kolope sudah cukup matang untuk dipetik. Ada juga pilihan lain yakni menungu daun itu kering secara alami lalu gugur di tanah.

Tapi daun seperti itu terlalu rapuh dan mudah robek. Lagipula, hasilnya kertas Kolope akan berwarna kuning. Kualitas terbaik daun Kolope adalah dipetik saat daun menua lalu dipanggang diatas bara api (bahasa muna : dikandela). Setelah itu, dijemur dibawah terik matahari selama dua hari.

Hasilnya, kertas putih, elastis dan kedap air (water resistant). Untuk satu layang-layang, dibutuhkan sekitar seratus lembar daun Kolope. Setelah menjadi kertas putih, daun-daun itu direkatkan satu sama lain pada sisi-sinya sehingga menjadi satu lembaran yang ututh.

Lembaran calon kertas layang-layang itu dikepik dengan kerangka kayuagar tidak cerai berai dan disimpan selama lima hari.

Lima hari kemudian, lembaran itu dirajut dengan tali agar menjadi lembaran utuh kertas layang-layang. Sambil menunggu itu, dapatlah dibuat kerangka layang-layang. Bahan bakunya bambu atau orang muna menyebutnya patu-patu. Kemudian mempersiapkan tali untuk layang-layang.

Tali layang-layang juga unik karena dibuat dari daun nenas hutan. Seperti memilih daun Kolope, daun nenas yang dipetik sebaiknya daun tua. Daun ini tidak langsung diolah melainkan disimpan dahulu selama dua hari. Setelah kering, daun dikerok dengan bambu sehingga yang tersisa hanya serat lalu dicecar menjadi jumbai-jumbai benang.

Jumbai-jumbai itu selanjutnya dipilin menjadi seutas tali siap pakai. Satu helai daun nenas hutan dapat menghasilkan sepuluh meter tali layang-layang. Ketika kerangka dan tali sudah siap, berarti semua bahan sudah siap untuk distukan menjadi satu layang-layang Kolope utuh.

Zaman dahulu, kerangka layang-layang Kolope dibuat setinggi “Tegap Merdeka” pembuatanya tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang.

Setelah semuanya siap layang-layang diberi sentuhan terakhir yakni nada dering atau bahasa Muna-nya kamumu. Kamumu sebenarnya semacam pita suara yang dibuat dari daun nyiur yang apabila ditiup angin pita itu bergetar dengan frekwensi tertentu lalu mengeluarkan bunyi khas nan merdu mendayu terutama pada malam yang sunyi.

Karena kertas Kolope anti air, maka layang-layang ini tahan bergetar diudara siang malam, selama berhari-hari. Sekehendak pemiliknya, kapan mau diturunkan. Dan, karena setiap orang memiliki ukuran pita Kamumu yang digemarinya, maka bunyi yang dihasilkannya juga menjadi spesifik.

Tak heran, bagi telinga yang berpengalaman dari bunyi kamumu, segera bisa menebak siapa pemilik layang-layang yang mengangkasa diatas langit malam itu.***

Layang-layang Tertua diDunia

Layang-layang (Kaghati) tertua di dunia berasal dari kab.Muna Sulawesi Tenggara Indonesia

Penghargaan kehormatan dunia bagi layang Kaghati Kolope, ternyata terkandung sejarah didalamnya. Selain keunikannya saat diterbangkannya juga bahan-bahannya masih menggunakan bahan alami.

Begitu pula dengan usianya yang terbilang tua. Hal ini terungkap pada saat festival layang-layang se-dunia di Prancis tahun 1997 dan kebetulan Kaghati Kolope sebagai juara dunia. Karena Jerman salah satu negara yang terkalahkan saat itu, maka berkeinginanan untuk menelusiri keunikan Kaghati Kolope hingga ke Muna. Sebab, saat itu pula muncul klaim dari negara China kalau layang tertua di Dunia berasal dari China, namun klaim ini dibantah langsung oleh La Masili salah seorang pelayang asal Muna yang mewakili Indonesia saat itu.

Berdasarkan data dari Dinas Pariwitasa Muna disebutkan bahwa tahun 1997 Wolfgong Bick warga Negara Jerman langsung melakukan penelitian di Muna. Dengan dipandu oleh salah seorang staf dari pemda Muna, Wolfgong Bick berhasil menemukan situs sebuah layang berbentuk kaghati Kolope yang sedang diterbangkan oleh seseorang di sebuah gua Sugipatini di Desa Liangkobori. Situs tersebut tergambar di sebuah dinding batu dengan menggunakan tinta warna merah.

"Gambar itu sudah juga dicoba untuk dihapus tapi tidak bisa. Setelah dibandingkan usianya dengan coretan tinta merah tersebut, Wolfgong Bick memprediksi kalau Kaghati Kolope tersebut sudah ada di Muna sekita 400 tahunan silam," tegas Sitti Zamriah SE MSi, Kepala bidang pemasaran pada Dinas Pariwisata Muna.

Ditambahkan, setelah Wolfgong Bick behasil menemukan situs Kaghati Kolope tersebut langsung mengklarifikasi melalui Lekong (perkumpulan layang Indonesia) di Jakarta kalau layang tertua di dunia bukan berasal dari Negara China melainkan dari Indonesia tepatnya di Muna. Karena layang yang di buat Negara China itu telah menggunakan tehnologi yang bahannya dari kain parasut dan batang almunium.

"Inilah salah satu kebanggan kami masyarakat Muna. Selain terkenal di tingkat Nasional juga di internasional karena keunikan layangan Kaghati Kolope yang terbuat dari daun ubi hutan (Kolope) juga talinya terbuat dari serat nenas hutan. Dan ini dibenarkan oleh Wolfgong Bick yang berasal dari negara Jerman sebagai salah seorang Counsultant of Kite Aerial Photography Scientific Use of Kite Aerial Photography yang pada tahun 1997 telah melakukan peneletian di Muna

Permainan Tradisional Bali


Berbagai permainan tradisional yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan ini, silih berganti mereka mainkan dengan penuh kegembiraan. Anak-anak ini terlihat sigap dan bersemangat, dalam menyelesaikan setiap permainan yang diajarkan kepada mereka.





Meong-Meongan



Meong-meongan merupakan permainan tradisional masyarakat bali yang umum dimainkan oleh anak-anak di bali diiringi dengan nyanyian lagu meong-meong. Permainan ini menggambarkan usaha dari si kucing atau dalam bahasa bali disebut meng untuk menagkap si tikus atau bikul.


Dalam permainan ini biasanya diikuti oleh lebih dari 8 orang atau lebih dimana 1 orang memerankan bikul (tikus) satu orang memerankan sebagai meng (kucing) dan yang lainnya bertugas melindungi bikul dari meng dengan cara membentuk lingkaran kemudian si bikul berada di dalam lingkaran sedangkan meng berada di luar lingkaran. Meng akan berusaha masuk ke dalam lingkaran dan berusaha menangkap bikul. Anak-anak yang membentuk lingkaran juga akan berusaha menghalangi meng masuk ke dalam lingkaran. Si meng baru boleh menangkap si bikul ketika lagu sudah pada kata-kata juk-juk meng juk-juk kul.


Metajog



Sebuah permainan tradisional Bali yang sudah tidak ada penggemarnya lagi. Dikalahkan oleh gemuruh permainan luar yang mahal seperti ‘ple stesien’ dan ‘montor remot’.

Metajog ini sebenarnya murah meriah. Hanya diperlukan dua potongan bambu untuk kaki-kakian. Untuk alas tempat berpijak bisa dipakai potongan bambu kecil atau kayu. Alas ini kemudian diikat pada kaki tajog dengan ketinggian yang disesuaikan dengan keinginan dan keberanian. Keseimbangan yang baik memang mutlak diperlukan bila tidak ingin jatuh terjerembab dari kaki tajog yang tinggi.


Foto ini diambil dari sebuah acara lomba dalam rangka perayaan ulang tahun sekaa teruna. Boleh juga, untuk bernostalgia dengan apa yang pernah ada. Siapa tahu banyak lagi penggemarnya sehingga blu bisa buka bisnis baru, ‘RENTAL TAJOG – Rp.500/kaki’ atau ‘KURSUS METAJOG’. Setelah banyak penggemarnya kemudian diajukan ke KONI agar dibuatkan LIGA TAJOG. Ups… koq jadi mimpi gini sih!!



Permainan Tradisional Aceh (NAD)

Di Aceh sendiri, tercatat sejumlah permainan dalam masyarakatnya. Permainan yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu (tak ditentukan) itu menjadi patut diketahui oleh anak-anak Aceh sekarang, minimal sebagai ingatan terhadap suatu yang pernah ada di Bumi Fansuri ini. Pentingnya permainan tradisional bagi anak-anak adalah terhadap perkembangan jiwa, fisik, dan mental anak. Karena itu, berikut kami coba hadirkan sejumlah permainan tradisional masyarakat Aceh yang oleh masyarakat di sini terkadang menjadikannya sebagai ajang kompetisi.


Peupok Leumo

Peupok Leumo adalah sejenis permainan yang khas terdapat di Aceh Besar. Permainan ini merupakan suatu permainan mengadu sapi. Permainan ini sebelumnya berkembang di kalangan peternak sapi. Zaman dahulu, lazimnya peupok leumo diselenggarakan oleh sekelompok peternak yang berada pada satu lokasi seperti yang berada pada satu kampung atau lebih luas lagi satu mukim, yang diselenggarakan seminggu sekali. Hari penyelenggaraan permainan ini biasanya setiap Minggu atau Jumat, tetapi tidak tertutup kemunginan di hari lainnya. Lazimnya dilaksanakn pada sore hari, sekitar pukul 16.00-18.00 WIB atau selepas asar.

Selaian peupok leumo yang mirip dengan karapan sapi di Betawi, masih ada lagi acara peupok leumo tunang, yaitu permainan peupok leumo untuk mencari sapi yang akan keluar sebagai pemenang. Acara peupok leumo tunang ini biasanya diselenggarakan dengan menggunaka panitia dan dewan juri. Persoalan waktu, tergantung kepada cuaca dan musim-musim tertentu, seperti sehabis panen atau waktu lain seperti pada hari-hari besar dan sebagainya.

Geulayang Tunang

Geulayang Tunang terdiri atas dua kata, yaitu geulayang yang berarti layang-layang dan tunang berarti pertandingan. Dari namanya jelas mempertegas bahwa geulayang tunang merupakan pertandingan layang-layang atau adu layang yang diselenggarakan pada waktu tertentu. Permainan ini sangat digemari masyarakat di berbagai daerah di Aceh. Mengenai nama permainan jenis ini, ada pula yang menyebutnya adu geulayang. Kedua istilah yang disebutkan terakhir memiliki maksud dan arti yang sama.

Pada zaman dahulu, permainan ini diselenggarakan sebagai pengisi waktu setelah masyarakat suatu tempat panen padi. Sebagai pengisi waktu, permainan ini sangat bersifat rekreatif. Oleh karena itu, permainan ini sering kali dilombakan dalam acara peringatan hari kemerdekaan RI atau even-even kebudayaan lainnya di Aceh semisal Pekan Kebudayaan Aceh.

Bola Keranjang

Bola keranjang atau bahasa Gayo disebut dengan tipak rege merupakan sejenis permainan bola yang dibuat dari rotan belah yang dipergunakan pada permainan sepak raga (sepak takraw). Permainan ini sudah jarang sekali dilakukan. Pada bola keranjang diikat rumbai-rumbai kain yang ber­warna merah, putih, dan hitam, sebanyak 15 helai.

Zaman masa dahulu, sepak raga merupakan sejenis permai­nan rakyat. Permainan ini sangat digemari oleh anak-anak, remaja/pemuda maupun orang-orang dewasa. Mereka me­manfaatkan waktu-waktu senggangnya dengan permainan ini.

Lenggang Rotan

Lenggang rotan merupakan jenis permainan yang terbuat dari rotan kecil yang dibuat melingkat seperti gelang besar. Rotan yang digunakan biasanya seukuran jempol tangan atau bisa lebih kecil. Rotan yang sudah dilingkarkan seperti gelang besar akan dimainkan di pinggang sambil menggoyang pinggang. Rotan tersebut akan berputar. Orang yang rotannya jatuh terlebih dahulu dianggap kalah. Permaianan ini umumnya juga terdapat di dataran tinggi Gayo, karena di sana memang terdapat banyak rotan.


Geudeue-geudeue

Geudeue-geudeue atau ada yang menyebutnya due-due adalah permainan ketangkasan yang terdapat di daerah Pidie. Di samping ketangkasan, kegesitan, keberanian, dan ketabahan, pemain geudeue-geudeue harus bertubuh tegap dan kuat serta memiliki otot yang meyakinkan. Permainan ini kadang-kadang berbahaya, karena merupakan permainan adu kekuatan.

Permainan ini dilakukan oleh seorang yang berbadan tegap. Mulanya dia tampil di arena menantang dua orang lain yang juga bertubuh tegap. Pihak pertama mengajak pihak kedua yang terdiri atas dua orang supaya menyerbu kepada yang menantang. Ketika terjadi penyerbuan, pihak pertama memukul dan menghempaskan penyerangnya (pok), sedangkan pihak yang pihak kedua menghempaskan pihak yang pertama.

Dalam tiap permainan, bertindak empat orang juru pemisah yang disebut ureueng seumubla (juri), yang berdiri selang-seling mengawasi setiap pemain. Permainan ini mirip dengan olahraga sumo Jepang, bedanya hanya pada jumlah pemain.

Sahabat semua diatas baru sebagian kecil dari permaianan tradisional yang ada di Aceh.. bagi sahabat yang ingin menambahkan atau mengoreksi di persilahkan.... salam nusantara



Mbah Rupinah, Penjual Permainan Anak Tradisional Jawa

Ingin Tetap Lestarikan Budaya
Internet dan PlayStation menyerbu, menghipnotis perhatian anak-anak. Tetapi, Mbah Rupinah tetap konsisten, menjual permainan anak tradisional dari Jawa, pekerjaan yang telah ditekuninya sejak 2000 sampai saat ini.

Mbah Rupinah tengah duduk santai di kursi panjang yang terbuat dari kayu sambil melihat ke jalan. Rumahnya tepat berada di pinggir Jl. Kimaja No. 11, Kedaton, Wayhalim, Bandarlampung.


Kemeja lengan panjang bergaris dipadu kain batik membalut tubuhnya yang merenta. Meski begitu, dibanding perempuan berusia sama, 80 tahun, jelas fisiknya jauh lebih segar. Ini tak lepas dari semangatnya.


Setiap hari mulai pukul 07.00 sampai 22.00 WIB, ia bergelut dengan pekerjaannya. Menunggui barang dagangannya yang ia order dari luar daerah. Seperti kuda kepang, celengan Jawa, dan caplukan yang ia datangkan dari Surabaya. Hanya wayang yang ia pesan dari Jogjakarta.


’’Peminatnya ya ada saja, walaupun kadang juga tidak laku. Banyak pedagang beli di sini, langsung 20 buah. Tetapi banyak juga yang membeli satuan,” ceritanya.


Setiap dua bulan sekali, dia akan telepon minta dikirimkan aneka permainan anak itu sebanyak dua karung sekaligus atau 200 buah yang per satuannya ia jual Rp13 ribu. Sementara wayang hanya ia pesan 13 buah dengan harga per satuan Rp40 ribu.


Wanita yang pernah mengeyam SR sampai kelas 3 di Sentolo, Jogjakarta, ini memutuskan menjual aneka permainan tersebut bukan hanya berpikir keuntungan. ’’Tetapi lebih pada melihat ini permainan rakyat yang harus dilestarikan,” ujarnya.


Terlebih, almarhum suaminya adalah seorang dalang wayang kulit di Surabaya. Dulu ketika suaminya masih hidup, selain berjualan di pasar, ia sering membuat patung dan lukisan dari tanah liat. Tetapi karena sudah tua, dia tidak mampu lagi. ’’Cuma patung harimau ini yang tersisa, sengaja tidak dijual sebagai kenang-kenangan,” tuturnya.


Tak Ingin Repotkan Anak
Usia lanjut tak membuat Mbah Rupinah santai menghabiskan waktu tuanya. Justru sebaliknya, dia makin giat bekerja dan berusaha. Semua ini dilakukan karena tak ingin merepotkan anak-anaknya.

’’Walaupun sudah tua, saya tetap ingin mandiri. Hal ini juga dipesankan oleh suami saya Mbah Kasno (alm.) pada 2007 sebelum dia meninggal,” ungkap ibu tujuh anak ini.


Selain itu, ia merasa anak-anaknya juga mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Mereka harus memenuhi kebutuhan hidupnya. ’’Kalau merepotkan, saya akan menjadi beban bagi mereka,” tuturnya.


Mbah Rupinah punya prinsip, selagi bisa bekerja dan memiliki penghasilan, maka ia tetap melakukannya. ’’Kalau tidak bekerja, badan juga terasa pegal-pegal. Orang tua dulu kan berbeda dengan sekarang. Kalau saat ini, kebanyakan bekerja menjadi sakit. Tetapi orang tua dulu justru bekerja bisa membuat badan makin sehat,” tutur nenek 10 cucu ini sambil tersenyum.


Tidak Pernah Mengeluh
’’Ibu tidak pernah mengeluh, karena beliau tidak pernah merepotkan ketujuh anaknya. Hal ini yang akhirnya membuat kami, anak-anaknya, harus terus mengingatkannya. Apalagi jika ada masalah, ibu biasa memendamnya sendiri,” ungkap Parwoto.

Iyang –sapaan akrabnya– mengatakan, ibunya justru sering membantu anak-anak dan cucunya yang kesulitan, khususnya dalam hal uang. ’’Dia tidak pernah ragu memberikan uangnya untuk kami. Misalnya untuk membayar tagihan listrik,” bebernya.


Putra keempat dari Mbah Rupinah ini mengatakan, ibunya dari mereka masih kecil tidak ingin menyusahkan anak-anaknya. Sebisa mungkin, segala hal ia lakukan sendiri.


Sejak muda, ibunya selalu bekerja, tidak pernah mengenal lelah. Baginya, selagi badan masih kuat, dia selalu beraktivitas. ’’Dulu, ibu berjualan di pasar. Namun karena usianya yang sudah renta, kami memintanya untuk melakukan di rumah saja,” ungkap lelaki dua anak ini. (cia/c1/dea)


About Her

Nama : Rupinah
TTL : Jogjakarta, 1931
Alamat : Jalan Kimaja No. 11, Wayhalim, Bandarlampung
Pekerjaan : Penjual permainan anak tradisional
Suami : Kasno (alm.)

sumber : Radar Lampung

Cublak Suweng Rekor Dunia

Cublak-cublak Suweng Masuk Rekor Dunia


PERMAINAN cublak-cublak suweng massal yang ditampilkan oleh ribuan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada penyelenggaraan Milad ke-13 di Lapangan Tri Lomba Juang Semarang, Minggu (24/4), tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri). Atraksi itu tercatat dalam nomor urut rekor 4.848 dan bahkan memecahkan rekor dunia dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu 5.673 orang.


Sambil bermain, para kader ini dihibur grup akapela nasional, Awan Nasyid, yang secara khusus mempersembahkan akapela Jawa. Manajer Muri Sri Widayati mengatakan, permainan ini merupakan pemecahan rekor Muri ketiga yang dilakukan PKS.


Dua rekor PKS sebelumnya adalah menjamu makan bakso terbanyak dengan jumlah peserta enam ribu orang dan sebagai partai yang menggelar kampanye terbuka dengan peserta terbanyak, 122 ribu orang. Ketua DPW PKS Jateng Abdul Fikri Faqih menambahkan, bagi PKS, budaya dan seni merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai partai dakwah, PKS memandang seni dan budaya adalah bagian penting untuk melakukan transformasi menuju masyarakat madani.

Cublak-cublak suweng, kata Fikri, merupakan salah satu dolanan anak-anak warisan leluhur yang mulai ditinggalkan. Masyarakat sibuk dengan alat-alat modern seperti komputer dan televisi, sehingga lalai dengan warisan leluhur. ”Mendengungkan kembali cublak-cublak suweng sepertinya sepele, namun sebetulnya memiliki banyak makna.”


Kenapa dolanan anak-anak sampai nyaris hilang? Menurutnya, akibat ruang kota sudah habis lantaran arus modernisasi dan urbanisasi. Bagaimana anak-anak akan bermain gobak sodor, egrang, dan lain-lain, jikalau arena tidak ada lagi.


”Permainan warisan nenek moyang lebih sehat. Ketimbang futsal, apakah tidak lebih baik main benthik? Daripada playstation, lebih sehat tarik tambang dan egrang,” tuturnya.

Ketua panitia Milad PKS, Agung Budi Margono, mengatakan, subtansi dari pemecahan rekor ini lebih kepada keinginan PKS untuk kembali mengajak masyarakat mencintai budaya. ”Dimulai dari hal kecil ini, semoga memori kita tentang budaya bisa kembali hadir, selanjutnya mencintainya,” katanya.


Ia menjelaskan, mengutip sebuah hasil survei tahun 2010 di Yogyakarta, 63 persen anak mengetahui nama-nama dolanan Jawa. Namun, mereka tidak mengetahui cara dan aturan permainan secara keseluruhan. Sementara 27 persen anak sama sekali tidak mengetahui dolanan Jawa. Dalam kurun 5-10 tahun mendatang, mungkin hanya lima-enam jenis dolanan Jawa yang bisa bertahan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan punah.

Dari penelitian itu juga terungkap, sebanyak 65 persen anak akrab dengan videogame, 13% secara rutin menonton TV, 11% di arena bermain, dan 11 persen lainnya mengisi waktu luang dengan aktivitas positif seperti les dan mengaji. ”Artinya, permainan modern sudah banyak diminati anak-anak daripada permainan tradisional.î (Yunantyo Adi S, Saptono JS-43)

sumber : SuaraMerdeka


Permainan Koko-Koko

Bagi anak sekarang, nama dolanan satu ini mungkin terdengar aneh, atau bahkan baru mendengar kali ini. Hal itu bisa terjadi, karena memang permainan satu ini termasuk dolanan tradisional yang sekarang sudah sangat jarang dijumpai atau dimainkan oleh anak-anak bersama teman-teman sebayanya. Namun sebenarnya, bagi anak-anak, terutama di Jawa, pada zaman dulu dolanan ini biasa dimainkan. Nah penasaran dengan cara bermainnya? Kita ikuti ulasan di bawah ini.

Melihat dari nama permainan, sebenarnya nama koko identik dengan nama sebuah jenis ular air yang sedang mencari makan di air. Menurut sebuah sumber dari Sukirman Dharmamulya, jenis dolanan ini sudah berumur sangat tua, walaupun tidak ada data akurat mulai kapan, dolanan ini dikenal oleh anak-anak di Jawa, khususnya di Yogyakarta. Sayang, walaupun jenis dolanan ini pernah hidup di Jawa dan sudah sangat tua, kata koko yang berarti nama dolanan, tidak dijumpai dalam kamus Boesastra Djawa.

Sebenarnya dolanan ini hampir mirip dengan dolanan ancak-ancak alis. Artinya para pemain ada yang membentuk ular-ularan. Hanya cara bermainnya yang agak berbeda. Pada dolanan ini nanti, anak yang berada di posisi paling belakang yang membentuk formatur ular-ularan, akan dikejar-kejar oleh si koko.

Dolanan “Koko-Koko” tidak membutuhkan peralatan, kecuali sarung atau sabuk. Fungsi sarung atau sabuk dipakai oleh masing-masing anak yang membentuk formatur ular-ularan. Sarung/sabuk dipegang oleh pemain yang berada di belakangnya. Sementara pemain paling depan berperan sebagai Kakek/Nenek. Satu pemain lain berperan sebagai koko. Selain peralatan sarung/sabuk, dolanan ini hanya membutuhkan tanah lapang yang luas.

Dolanan “Koko-Koko” biasa dimainkan oleh anak laki-laki, karena membutuhkan kekuatan fisik untuk berlari. Dalam dolanan ini, anak-anak yang bermain sekitar 10 anak. Lebih banyak lebih baik, karena formasi ular akan semakin panjang, sehingga membuat koko kesulitan mengejar mangsa. Mereka yang bermain dolanan ini rata-rata berumur 8-10 tahun. Seperti pada permainan lain, dolanan ini lebih sering dimainkan saat-saat waktu libur atau senggang, baik pagi, siang, sore, atau malam hari saat terang bulan. Jika dimainkan siang hari, lebih banyak dimainkan di halaman yang teduh. Sementara saat dimainkan malam hari, lebih banyak dimainkan di tanah lapang yang mudah kena sinar bulan.

Anak-anak yang hendak bermain dolanan koko-koko misalnya ada 10 anak, yaitu A, B, C, D, E, F, G, H, I, dan J. Setelah mereka bersepakat bermain, lalu terus berkumpul di halaman rumah. Dari mereka, satu orang berperan menjadi koko, satu orang berperan menjadi kakek/nenek, dan pemain lainnya berperan sebagai anak buah kakek/nenek. Mereka bergandengan ke belakang dengan memegang sarung/sabuk yang telah dipakai di pinggang atau dikalungkan di badan. Pegangan pemain anak buah harus kuat, sebab jika sampai terlepas, maka akan menjadi pemain dadi.

Setelah semua siap, pemain yang berperan Koko-Koko (KK) dan Kakek/Nenek (K/N) melakukan dialog sebagai pembuka. Dialog seperti di bawah ini:

K/N : Koko-koko kowe arep njaluk apa?
KK : Aku njaluk banyumu.
K/N : Wadhahe apa?
KK : Godhong lumbu.
K/N : Apa gulumu ora gatel?
KK : Gatel-gatel dak ulu.
K/N : Tambane apa?
KK : Gula batu.
K/N : Olehmu njupuk ngendi?
KK : Grabaganmu. Kelip-kelip ing dhadhamu kuwi apa?
K/N : Anakku.
KK : Dak jaluk oleh apa ora?
K/N : Ora oleh.
KK : Dak jaluk ora oleh, ya dak rebut!

Setelah percakapan iku, maka koko berusaha menyambar anak kakek yang berada di paling belakang. Jika koko berlari ke arah kanan, maka ekor ular akan mengarah ke kiri. Begitu sebaliknya. Namun jika koko bisa mendekat ke ekor dan berhasil memegang pemain paling belakang, maka pemain belakang dengan sekuat tenaga memegang sarung atau sabuk. Maka terjadilah tarik-menarik yang sangat alot. Anak-anak lain berusaha mempertahankan pemain paling belakang, dan terkadang disertai suara tertawaan dari para pemain atau penonton. Jika pemain belakang bisa dilepaskan oleh si koko, berarti ia menjadi pemain dadi dan menggantikan pemain koko. Sementara pemain koko bisa bergabung ke pemain lain.

Ada cara lain, saat si koko telah bisa mendekat ke ekor ular, maka pemain paling belakang melepaskan sarung atau sabuk dan berlari sekuat tenaga. Maka si koko segera mengejar pemain yang lari. Jika si koko bisa menangkapnya, maka pemain yang lari menjadi pemain dadi. Namun jika pemain lolos dan bergabung lagi ke posisi semula, maka si kakek/nenek berusaha lagi menghalangi-halangi si koko untuk menangkap ekornya. Begitu seterusnya hingga mereka merasa capek.

Dolanan ini mengajarkan kepada anak-anak untuk bisa hidup bersosialisasi dengan teman. Dengan dolanan koko-koko ini, anak juga fisiknya lebih sehat, karena banyak berlari, melatih keberaniannya dan diajak untuk lebih sportif dan menghargai teman-temannya. Jika sedang dadi, maka harus berani menghadapinya dan tidak mudah cengeng.

Sumber: Permainan Tradisional Jawa, Sukirman Dharmamulya, 2004, Yogyakarta: Kepel Press